Contohnya, yang dikenal wisatawan sebagai Bukit Teletubies sebenarnya bernama Lembah Watangan atau Savana Watangan. Bukit Kingkong, yang juga populer di kalangan pengunjung, memiliki nama asli Bukit Kedaluh atau Puncak Kedaluh. Begitu pula dengan Bukit Cinta, yang sering disebut Love Hill, sebenarnya bernama Lemah Pasar.
Dukun Adat Tengger, Sutomo, menekankan bahwa nama-nama asli tersebut memiliki makna mendalam bagi warga Tengger. Sebagai sesepuh dan tokoh adat, Sutomo menyambut baik upaya Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) untuk mengembalikan nama-nama asli tersebut.
“Nama-nama asli ini akan dikenal hingga generasi mendatang karena memiliki arti yang sangat dalam bagi kami,” ujar Sutomo, Selasa (20/8).
Pengembalian nama-nama asli diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan untuk lebih lama berada di Bromo. Selain Gunung Bromo, kawasan pegunungan Tengger juga menawarkan berbagai destinasi lain, termasuk wisata budaya yang sarat nilai sejarah.
Plt. Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menuturkan bahwa deklarasi pengembalian nama-nama lokasi wisata ini bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia.
“Nama-nama tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi warga Tengger, sehingga lebih baik dikembalikan ke nama aslinya,” jelas Nur Patria.
Langkah ini juga sejalan dengan tagline Bromo Tengger Semeru Harmony: Konservasi Alam dan Budaya, yang bertujuan melestarikan kearifan lokal serta menghormati kawasan Tengger sebagai tanah suci bagi warga sekitar.