Di tengah blokade dan kelaparan, warga Gaza dikejutkan oleh temuan mencengangkan: bantuan makanan yang diduga mengandung narkoba.
__________
Pemerintah Gaza menuding pusat distribusi bantuan kemanusiaan yang disokong Israel dan Amerika Serikat telah menyusupkan zat adiktif ke dalam bahan pangan yang dikirim ke wilayah mereka.
Tuduhan ini diarahkan kepada Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi yang mulai menyalurkan bantuan sejak 26 Mei lalu—setelah Israel memutus akses masuk bantuan selama lebih dari dua bulan.
Dalam pernyataan resminya, kantor media pemerintah Gaza menyebut insiden ini sebagai “kejahatan mengerikan” yang mengincar kesehatan warga sipil dan membahayakan struktur sosial masyarakat. Mereka mengklaim, ini adalah strategi pendudukan untuk menghancurkan Palestina dari dalam.
Seorang apoteker lokal, Omar Hamad, membagikan temuannya di media sosial. Ia menyebutkan bahwa Oxycodone, obat penghilang rasa sakit yang bersifat adiktif, ditemukan dalam kantong-kantong tepung bantuan. Lebih mengejutkan lagi, ia menduga tepung itu sendiri telah tercampur zat tersebut.
Komite Anti-Narkoba Gaza menyerukan kewaspadaan warga terhadap bantuan pangan, khususnya dari lembaga yang dibekingi AS dan Israel. Mereka meminta agar setiap temuan zat mencurigakan segera dilaporkan.
Isu ini muncul di tengah kritik global terhadap blokade Israel. PBB, dalam laporan terbarunya, menyoroti praktik penggunaan pangan sebagai alat perang. Mereka mengecam militer Israel yang disebut menembaki warga sipil yang tengah mengantre bantuan.
Catatan PBB menyebut lebih dari 410 warga Palestina tewas dan sekitar 3.000 lainnya terluka saat berusaha mengakses bantuan. Pada Mei lalu, badan dunia itu juga menyatakan bahwa seluruh penduduk Gaza kini terancam kelaparan.
“Rakyat Gaza dipaksa memilih: mati perlahan karena lapar, atau menantang peluru demi sekarung tepung,” ujar Kantor HAM PBB.***





