Viral Menu MBG Berupa Snack Kemasan, Pengamat: Tidak Sehat, Baiknya Stop Dulu Karena Mubazir

Distribusi bantuan makanan bergizi gratis (MBG) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) kembali menuai sorotan warganet. Di salah satu SDN di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, paket MBG yang dibagikan kepada siswa dan orang tua didominasi camilan atau snack ringan dalam kemasan. | Tangkapan Layar dari X
Menu bantuan MBG di SD Pondok Aren disorot warganet karena didominasi camilan kemasan. Di tengah serapan anggaran Rp4,4 triliun, efektivitas program dinilai rendah. Pengamat usul agar dihentikan sementara.

__________

Distribusi bantuan makanan bergizi gratis (MBG) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) kembali menuai sorotan warganet. Di salah satu SDN di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, paket MBG yang dibagikan kepada siswa dan orang tua didominasi camilan atau snack ringan dalam kemasan, alih-alih makanan segar bernutrisi tinggi. Sudah mirip snack bus malam!

Paket MBG tersebut dibagikan sekolah ke setiap orang tua murid usai pembagian rapor. Setiap orang tua murid diketahui menerima satu tas jinjing (goodie bag) yang bisa dibawa pulang, berisi dua roti cokelat, satu kotak susu cokelat ukuran 115 ml.

Bacaan Lainnya

Selain itu mereka juga menerima satu sachet minuman sereal rasa vanila, empat bungkus snack kentang, empat sachet biskuit stik mini, tiga bungkus biskuit kelapa, tiga bungkus kacang atom, dan satu bungkus kacang kulit.

Komposisi makanan yang lebih didominasi oleh produk kemasan ini mengundang pertanyaan atas efektivitas program MBG dalam mendukung kecukupan gizi anak-anak usia sekolah.

“Dari kasus keracunan massal karena makanan basi sampai sekarang anak dikasih jajanan ringan kemasan. Udah bener MBG distop aja. Tidak ada perbaikan tata kelola, tidak ada akuntabilitas, transparansi. Makin hari makin jauh dari bergizi,” kata salah satu warganet di platform X.

Diah Saminarsih, pendiri dan CEO Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), mengatakan, berdasarkan temuan penelitian lembaganya bahwa makanan ultra-proses mencakup 45 persen dari menu yang diberikan dalam MBG.

Kata Diah, makanan ultra-proses berbahaya karena kandungan gula, garam dan lemak dalam makanan tersebut “tidak terkontrol”.

“Jika program MBG bertujuan untuk mengejar kecukupan gizi, maka makanan ultra-proses tidak bisa dipertanggungjawabkan tingkat kecukupan gizinya dan tidak mengandung cukup mikronutrien yang dibutuhkan”, kata Diah, pada Jumat, 20 Juni 2025.

Pos terkait