Vatikan menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Amerika Serikat.
Vatikan melalui Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin secara tegas memutuskan tidak akan bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Amerika Serikat karena menilai adanya ketidakjelasan mekanisme serta potensi tumpang tindih dengan peran PBB dalam menangani konflik global.
Keputusan Final Takhta Suci
Vatikan telah mengambil keputusan final untuk tidak berpartisipasi dalam Board of Peace, badan independen penyelesaian konflik yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump. Kardinal Pietro Parolin menegaskan bahwa langkah ini diambil karena karakter unik Takhta Suci yang berbeda dari entitas negara pada umumnya.
”Takhta Suci tidak akan berpartisipasi dalam Dewan Perdamaian karena sifatnya yang khusus, yang jelas berbeda dengan negara-negara lain,” ujar Parolin.
Poin-Poin yang Membingungkan
Alasan utama penolakan tersebut bukan hanya soal status diplomatik, melainkan substansi dari dewan itu sendiri. Setelah melakukan evaluasi sejak Januari, Vatikan menemukan banyak aspek teknis dan tujuan Board of Peace yang dinilai rancu dan belum terjelaskan.
”Ada beberapa poin yang agak membingungkan. Ada poin-poin penting yang perlu dijelaskan. Namun, bagi kami, ada beberapa isu kritis yang perlu diselesaikan,” tegas Parolin menyoroti ketidakjelasan tersebut.
Kekhawatiran Terhadap Peran PBB
Vatikan menekankan bahwa mandat untuk menjaga perdamaian dunia seharusnya tetap berada di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pembentukan badan tandingan di luar struktur resmi dikhawatirkan justru akan melemahkan diplomasi multilateral yang sudah ada.
”Di tingkat internasional, utamanya PBB yang mengelola situasi krisis ini. Ini salah satu poin yang telah kami tekankan,” jelasnya.
Situasi Global dan Partisipasi Negara Lain
Sikap Vatikan ini kontras dengan lebih dari 25 negara lain—termasuk Indonesia, Israel, dan Argentina—yang telah menyatakan bergabung. Di sisi lain, Parolin juga menyoroti stagnasi penyelesaian konflik global lainnya, seperti perang di Ukraina yang tak kunjung usai.





