Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penangguhan selama tiga bulan atas seluruh tarif timbal balik yang diberlakukan terhadap berbagai negara. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tengah malam, dan mengecualikan Tiongkok, yang tetap dikenai tarif tinggi.
__________
Langkah ini menjadi perubahan signifikan dari pendekatan Trump yang selama ini dikenal keras terhadap kebijakan tarif. Meski demikian, tarif tinggi terhadap Tiongkok justru akan dinaikkan dari 104 persen menjadi 125 persen.
Kebijakan ini diberlakukan menyusul pengumuman tarif balasan oleh pemerintah Tiongkok terhadap produk-produk asal Amerika Serikat pada Rabu, 9 April 2025 waktu setempat.
“Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan Tiongkok kepada Pasar Dunia, dengan ini saya menaikkan tarif terhadap Tiongkok menjadi 125 persen, berlaku segera,” ujar Trump melansir laporan CNN.
Ia menambahkan, “Mudah-mudahan, Tiongkok akan segera menyadari bahwa praktik menipu Amerika Serikat dan negara lain tidak lagi dapat diterima.”
Sementara itu, negara-negara lain yang sebelumnya dikenai tarif timbal balik akan kembali mengikuti tarif universal sebesar 10 persen. Namun, Meksiko dan Kanada menjadi pengecualian.
Menurut seorang pejabat Gedung Putih seperti dilansir CNN, hampir seluruh produk dari kedua negara tersebut akan tetap dikenai tarif sebesar 25 persen, kecuali jika mereka patuh sepenuhnya pada Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA).
Namun, pengecualian itu tidak mencakup tarif khusus sektor tertentu yang telah diberlakukan sebelumnya oleh pemerintahan Trump. Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa meski ada penundaan, kebijakan tarif belum sepenuhnya berakhir.
“Belum ada yang berakhir. Namun kami melihat semangat luar biasa dari berbagai negara, termasuk Tiongkok,” ujar Trump. “Tiongkok ingin membuat kesepakatan, mereka hanya belum tahu bagaimana melakukannya.”
Saham DJT Melonjak, Trump Tegaskan Peran Pribadi
Trump menutup unggahan pengumuman kebijakan tarifnya dengan inisial “DJT”—yang diduga merujuk pada perusahaannya, Trump Media & Technology Group Corp, yang tercatat di bursa saham dengan kode DJT.
Perusahaan induk dari platform Truth Social tersebut mengalami penurunan saham hampir 13 persen bulan ini. Namun, pasca pengumuman tarif, saham DJT melonjak lebih dari 20 persen hanya dalam satu hari perdagangan pada Rabu.
Kepada wartawan, Trump menyebut keputusannya untuk menunda pemberlakuan tarif sebagian dipengaruhi oleh aspirasi publik yang dinilainya “sedikit bersemangat.” Ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas dalam kebijakan ekonomi.
“Anda harus memiliki fleksibilitas,” ujarnya. Komentar tersebut menandai perubahan nada signifikan dari pernyataan sebelumnya yang bersikukuh bahwa tarif tinggi akan diberlakukan secara konsisten.
Beberapa jam setelah pengumuman itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan jeda tarif merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah. Ia memuji Trump sebagai pemimpin yang memiliki “keberanian besar untuk bertahan sampai titik ini.”
CNN melaporkan bahwa Bessent sempat terbang ke Mar-a-Lago pada akhir pekan lalu untuk mendiskusikan kebijakan tarif langsung dengan Trump. Diskusi tersebut dikabarkan memperkuat fokus Trump pada upaya menjalin kesepakatan baru dengan negara-negara mitra dagang.
Di sisi lain, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui rencana jeda tarif hingga pengumuman resmi disampaikan. Dalam sidang DPR pada Rabu, Greer mengatakan baru menyadari kemungkinan perubahan kebijakan tersebut pada pagi hari yang sama.
Ketika ditanya apakah ia telah diberi informasi lebih awal, ia menjawab bahwa pemerintah membahas berbagai skenario kebijakan. Trump mengonfirmasi bahwa keputusan akhir diambil pagi itu setelah pertemuan dengan Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Bessent.
“Kami menuliskannya dari hati kami,” kata Trump kepada wartawan. Ia juga menambahkan bahwa dirinya akan terlibat secara langsung dalam seluruh proses perundingan dengan negara-negara terkait.***





