‘Tradisi Baru’ di Pantura Jateng: Takbiran Tanpa ‘Sound Horeg’ di Kecamatan Karanganyar Demak

Tradisi takbir keliling menggunakan “sound horeg” atau perangkat pengeras suara yang sangat keras biasanya menjadi bagian dari perayaan malam takbiran di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah—seperti Demak, Kudus, Pati dan Rembang. Namun, suasana itu tak muncul di Lebaran tahun ini, khususnya di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Demak melarang penggunaan sound horeg dalam takbir keliling. Tujuannya untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Selama ini ‘sound horeg‘ mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat,” kata Bupati Demak Eisti’anah, setelah acara Forum Komunikasi Ulama Umaro (FKUU) di Aula Kecamatan Demak di Demak, Ahad, 30 Maret 2025.

Eisti’anah berharap, forum komunkasi pimpinan kecamatan (forkopimcam) mengimbau masyarakat di wilayah masing-masing agar tak menggunakan sistem perangkat tata suara yang berlebihan.

Bacaan Lainnya

Sebagai informasi, tahun lalu kepolisian telah menerbitkan surat edaran terkait larangan tersebut. Isinya adalah imbauan agar tak ada lagi takbir keliling menggunakan sistem tata suara berlebihan.

Selain larangan sound horeg, Pemkab Demak juga meminta kegiatan takbir keliling tidak sampai lintas wilayah. Wakil Bupati Demak Muhammad Badruddin menyampaikan, selama Ramadan tentunya harus diisi dengan kegiatan yang bersifat islami. Maka dari itu, dalam syiar Lebaran, pemda setempat berharap agar masyarakat menghindari sound horeg.

Timbulkan Masalah Sosial

Beberapa waktu belakangan ini sound horeg dinilai telah menimbulkan masalah sosial yang cukup serius—lantaran menimbulkan kegaduhan di malam hari hingga menyebabkan kerusakan rumah warga.

Mulanya penggunaan pengeras suara dalam takbir keliling dianggap sebagai bentuk inovasi dalam menyampaikan syiar secara meriah. Namun, kenyataannya, suara yang terlalu keras justru menyebabkan gangguan bagi banyak orang.

Dalam lingkungan padat penduduk, seperti di perkotaan, suara yang menggelegar tak hanya mengganggu ketenangan malam, tetapi juga bisa menyebabkan kerusakan pada rumah warga akibat getaran yang dihasilkan oleh sound system tersebut. Tak jarang warga yang tinggal di sekitar jalur takbir keliling merasa terganggu dengan kebisingannya yang meletup-letup hingga tengah malam, bahkan dinihari.

Kegaduhan ini tak hanya mengganggu orang dewasa, tetapi juga anak-anak, lansia, dan mereka yang sedang sakit. Bagi mereka, tidur yang berkualitas di malam hari adalah hal yang sangat dibutuhkan. Kegaduhan sound horeg mempersulit mereka untuk mendapatkan istirahat yang cukup.***

Pos terkait