Meski tak tercatat dalam kamus medis, masuk angin tetap dipercaya dan dirawat secara serius dalam budaya Jawa—dengan kerokan sebagai ritual penyembuhan utama yang melampaui logika klinis.
__________
Prof. Dr. Atik Triratnawati, Dosen Antropologi Kesehatan Fakultas Ilmu Budaya UGM, baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan pidato pengukuhan yang menarik: Masuk Angin sebagai Fenomena Budaya.
Menurut Atik, meski tidak dikenal dalam dunia medis modern, masuk angin sangat nyata dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.
Atik menjelaskan bahwa orang Jawa meyakini bahwa tubuh sehat adalah keseimbangan antara unsur panas dan dingin. Ketika angin dianggap “terlalu banyak masuk”, tubuh diyakini tidak lagi seimbang—maka muncullah penyakit yang disebut masuk angin.
Dalam perspektif antropologi, masuk angin termasuk ke dalam model holistik, bukan karena sihir atau unsur magis, melainkan karena ketidakseimbangan elemen tubuh.
Ia memetakan tiga jenis masuk angin:
- Masuk angin biasa, yang gejalanya ringan seperti kembung dan pegal.
- Masuk angin berat, disertai muntah dan diare karena kelelahan ekstrem dan kurang istirahat.
- Masuk angin kasep, yang dianggap paling serius, bisa menyebabkan nyeri dada hingga pingsan jika dibiarkan.
Dalam budaya Jawa, penyembuhannya pun unik. Mulai dari menggosokkan kotoran sapi pada perut anak, hingga meminum minuman bersoda. Namun yang paling populer adalah kerokan: menggosok punggung dengan koin dan minyak hingga muncul garis merah. Bagi masyarakat Jawa, ini bukan sekadar terapi, tapi ritual penyembuhan.
Medis modern sering kali skeptis terhadap kerokan, menganggapnya bisa merusak pembuluh darah. Namun Atik menilai, jika dilakukan dengan tepat, kerokan justru bisa melancarkan aliran darah dan meningkatkan suhu tubuh, sesuai dengan konsep sehat dalam budaya lokal.
Melalui riset ini, Atik menunjukkan bahwa persepsi sakit tidak hanya dibentuk oleh ilmu kedokteran, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya tempat seseorang hidup. Karena itu, pemahaman medis yang inklusif terhadap tradisi lokal seperti masuk angin menjadi penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih manusiawi dan kontekstual.***





