Surabaya Menjadi Ibu Kota Adiwiyata

Surabaya mendapatkan penghargaan Adiwiyata terbanyak se-Indonesia. - Dok. Pemkot Surabaya
Di penghujung 2025, Surabaya menutup tahun dengan catatan yang cukup membanggakan: 30 sekolahnya dinobatkan sebagai penerima Adiwiyata, terbanyak di Indonesia.

Capaian itu menempatkan Surabaya bukan sekadar sebagai kota peraih piala, melainkan sebagai ruang uji bagi satu gagasan lama yang terus diperbarui—bahwa perubahan lingkungan dimulai dari bangku sekolah. Dari total penghargaan tersebut, delapan sekolah meraih predikat Adiwiyata Mandiri dan 22 lainnya menyandang Adiwiyata Nasional, sebuah angka yang mencerminkan konsistensi, bukan kebetulan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyambut pencapaian ini dengan nada syukur sekaligus reflektif. Baginya, penghargaan Adiwiyata tidak berdiri sendiri sebagai simbol prestasi administratif, melainkan buah dari kerja kolektif sekolah, guru, siswa, dan ekosistem pendidikan kota.

“Kesuksesan ini tidak terlepas dari upaya sistematis sekolah-sekolah di Surabaya dalam menanamkan budaya memilah sampah sebagai kebiasaan sehari-hari,” ujar Eri, Selasa (16/12/2025).

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: perubahan lingkungan tidak lahir dari kampanye sesaat, melainkan dari kebiasaan yang diulang, dibiasakan, dan diwariskan. Di Surabaya, praktik memilah sampah—yang kerap dianggap sepele—didorong menjadi rutinitas harian di sekolah, bukan sekadar proyek lomba.

Pendidikan Lingkungan sebagai Pendidikan Karakter

Eri memandang Adiwiyata sebagai instrumen pembentuk karakter. Ia menautkan isu kebersihan dengan dimensi moral yang lebih luas—sebuah nilai yang hidup di ruang kelas, halaman sekolah, hingga keseharian siswa.

“Kebersihan adalah bagian dari iman. Karena itu, pendidikan lingkungan harus dimulai sejak dini. Penghargaan ini bukan soal piala, tetapi tentang bagaimana kita membentuk generasi yang mencintai kebersihan,” tegasnya.

Ia mengibaratkan karakter anak-anak seperti tulang yang masih lunak, mudah dibentuk dan diarahkan. Analogi ini menjadi kunci argumennya: kebiasaan baik lebih efektif ditanamkan sebelum pola perilaku mengeras. Berbeda dengan orang dewasa, yang sering kali harus “melawan” kebiasaan lama, anak-anak justru belajar dengan meniru dan mengulang.

Dari perspektif itu, sekolah menjadi arena strategis. Bukan hanya sebagai institusi akademik, melainkan sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai ekologis diuji dalam praktik sehari-hari.

Target 2026: Semua Jenjang Adiwiyata

Tak berhenti pada capaian 2025, Pemerintah Kota Surabaya menatap tahun berikutnya dengan target yang lebih ambisius. Eri meminta Dinas Pendidikan Surabaya segera menyusun langkah strategis agar seluruh jenjang sekolah—mulai dari TK, SD, hingga SMP—dapat meraih predikat Adiwiyata pada 2026.

“Kunci dari target ini adalah penguatan kebiasaan memilah sampah hingga menjadi identitas setiap sekolah,” ujarnya.

Identitas, dalam konteks ini, bukan sekadar label formal, melainkan karakter yang melekat. Eri membayangkan generasi yang tumbuh tanpa membawa kebiasaan merusak lingkungan ke masa dewasa.

Ia menyebut contoh konkret yang kerap ditemui di ruang publik: membuang kasur ke sungai atau sampah ke saluran air. Perilaku-perilaku itu, menurutnya, bukan semata persoalan teknis pengelolaan sampah, tetapi cerminan karakter yang gagal dibentuk sejak awal.

“Jika kebiasaan buruk itu hilang, artinya karakter kebersihan sudah terbentuk dengan sempurna,” katanya.

Peran Guru dan Gotong Royong

Dalam narasi perubahan ini, guru menempati posisi sentral. Eri menitipkan pesan agar para pendidik terus menanamkan nilai kebersihan secara konsisten, bukan sebagai kewajiban kurikulum semata, tetapi sebagai laku hidup.

Menurutnya, transformasi Surabaya tidak dimulai dari proyek besar atau infrastruktur megah, melainkan dari perilaku kecil yang dilakukan berulang oleh anak-anak—dan diawasi dengan telaten oleh para guru.

“Atas semangat gotong royong dan keyakinan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, saya yakin tahun 2026 kita dapat bergerak bersama mewujudkan perubahan nyata,” pungkasnya.

Daftar Sekolah Penerima Adiwiyata 2025

Pada kategori Sekolah Adiwiyata Mandiri 2025, Surabaya diwakili oleh: SDN Kebonsari 1, SDN Dukuh Menanggal 1/424, SDN Sememi 1, SDN Karah 1, SMPN 35 Surabaya, SMPN 2 Surabaya, SMPN 44 Surabaya, dan SMPN 43 Surabaya.

Sementara itu, Sekolah Adiwiyata Nasional 2025 meliputi: SDN Ngagel Rejo 1/396, SDN Lidah Kulon 1/464, SDN Ketabang 1/288, SDN Margorejo VI, SDN Lidah Kulon IV/467, SDN Dukuh Kupang 2/489, SDN Wonokusumo V/44, SDN Dr. Soetomo V/327, SDN Pacarkeling V/186, SDN Sumberejo II, SDN Lidah Kulon III/466, SDN Simokerto VI/139, SDN Asemrowo, SD Santa Maria, SDN Pacarkeling 1/182, SDN Ujung IX/34, SDN Pacarkembang I/192, SMPN 57 Surabaya, SMPN 61 Surabaya, SMPN 49 Surabaya, SMPN 14 Surabaya, dan SMPN 60 Surabaya.

Di balik daftar nama dan angka itu, Surabaya sedang menulis cerita lain—tentang kota yang mencoba merawat masa depannya dengan cara paling sederhana: membentuk kebiasaan baik, sejak dini, dari sekolah.***

Pos terkait