Surabaya Gelar TKA Berbasis Komputer untuk 70 Ribu Siswa SD dan SMP

TKA di Surabaya
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Febrina Kusumawati. - Diskominfo Surabaya
Pemkot Surabaya siapkan TKA berbasis komputer sistem gelombang untuk 70 ribu siswa SD-SMP mulai April 2026 — bukan penentu kelulusan, tapi kunci seleksi jenjang berikutnya.

Hampir 70 ribu siswa di Surabaya akan menghadapi format ujian yang berbeda mulai April ini. Pemerintah Kota Surabaya memastikan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP tahun 2026 digelar sepenuhnya berbasis komputer dengan sistem gelombang bertahap.

Kebijakan ini merupakan mandat langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebagai instrumen pengukur capaian akademik siswa secara nasional.

“TKA ini bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan akademik siswa secara lebih komprehensif,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, Rabu (1/4/2026).

Bacaan Lainnya
70 Ribu Siswa, Satu Sistem Bergilir

Skala pelaksanaannya tidak kecil. Untuk jenjang SD, tercatat 642 satuan pendidikan dengan 35.602 peserta — terdiri dari 20.849 siswa negeri dan 14.753 siswa swasta. Sementara jenjang SMP melibatkan 321 satuan pendidikan dengan 34.381 peserta.

Karena keterbatasan perangkat, satu komputer dipakai bergantian oleh beberapa siswa. Setiap sesi menggunakan paket soal berbeda untuk menjaga keadilan.

“Dengan sistem gelombang dan soal berbeda di tiap sesi, kami pastikan pelaksanaan tetap adil bagi seluruh peserta,” jelas Febrina.

TKA SMP dijadwalkan berlangsung 6–16 April 2026, sedangkan TKA SD pada 20–30 April 2026. Hasil TKA secara nasional diumumkan pada 25 Mei 2026.

Bukan Hafalan, tapi Nalar

Dari sisi konten, TKA hanya menguji dua mata pelajaran: Matematika dan Bahasa Indonesia. Namun jangan salah — soalnya dirancang berbasis penalaran dan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan.

“Yang diukur adalah kemampuan analitik dan logika siswa dalam memahami persoalan, bukan sekadar menjawab soal,” tegas Febrina.

Secara nasional, Kepala BSKAP Kemendikdasmen Toni Toharudin menegaskan bahwa data TKA adalah titik awal perbaikan, bukan titik akhir. Hasilnya akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum dan peningkatan mutu pembelajaran secara sistemik.

Pos terkait