Sunan Muria dikenal sebagai sosok yang sederhana, tak suka kemewahan serta popularitas. Kesederhanaan tersebut ditunjukkannya dengan memilih pegunungan Muria untuk hidup dan berdakwah. Sunan Muria membangun masjid pertamanya di Gunung Muria dengan dinding kayu beratap dedaunan.
Nama Muria sendiri, Menurut Sholihin dalam bukunya Kudus Purbakala Dalam Perjoangan Islam, diidentifikasikan dengan nama sebuah bukit di dekat Yerussalem, Palestina. Bukit itu bernama Gunung Moriah, di mana Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah kenisah—semacam rumah ibadah—di puncak gunung tersebut. Sedangkan George Quinn, seorang antropolog Australia, berpendapat bahwa Gunung Muria berarti gunung mulia atau gunung agung.
Masjid Sunan Muria bukanlah satu-satunya masjid yang dibangun oleh Sang Sunan. Sebelumnya, dia juga pernah membangun masjid di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang sampai saat ini masih menjadi petilasan yang dikenal dengan nama Pesiget. Namun, Sunan Muria dikisahkan kurang nyaman menyiarkan agama Islam di sana. Maka dari itu dia berpindah ke tempat yang lebih tenang.
Setelah itu Sunan Muria juga membangun masjid di Bukit Pethoko. Akan tetapi, karena bising dengan suara anjing menggonggong, dia pindah lagi dan membangun masjid di salah satu puncak Gunung Muria—yang hingga kini dikenal dengan nama Masjid Sunan Muria.
Menurut catatan Pemangku Makam dan Masjid Sunan Muria, ada juga situs fisik yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Muria. Situs itu berupa gentong air, lapak kuda, umpak (penyangga saka masjid), mihrab, dan sebuah inskripsi berbahasa Arab. Inskripsi ini terletak di atas mihrab Masjid Sunan Muria. Mihrab terbuat dari batu yang disusun tanpa semen, dihiasi ukiran dan piringan keramik kuno yang indah.
Sedangkan inskripsi bertuliskan Arab yang ada saat ini merupakan salinan dari bentuk aslinya yang sudah pecah dan rusak. Masyarakat lereng Gunung Muria meyakini bahwa tulisan yang ada di inskripsi tersebut merupakan wirid yang menjadi amalan Sunan Muria. Hal itu diperkuat lagi dengan penjelasan yang pernah disampaikan oleh Habib Lutfi bin Yahya.
Tulisan tersebut, setelah ditranselitrasi secara lengkap, ternyata tersusun dari lafaz basmalah, takbir, asmaul husna (al-Karim, ar-Rahman, ar-Rahim, as-Salam, al-Jawad, al-Birr, ar-Rauf, al-Aziz, al-Ghani, al-Qawi, al-Ghaffar, al-Latif) serta beberapa ayat dan surah dalam Al-Qur’an, yaitu: QS. Asy-Syura: 19; QS. Al-Fatihah; Q.S. Al-An’am: 63-64; QS. Al-Ikhlas; QS. Al-Falaq; dan QS. An-Nass.
Sunan Muria dipercaya memberikan amalan zikir kalimat-kalimat suci melalui rangkaian wirid tersebut, sebagai pager diri atau benteng keimanan kepada santri dan masyarakat sekitar Gunung Muria. Adanya untaian wirid warisan Sunan Muria ini menunjukkan bahwa Sang Sunan adalah mursyid sejati yang senantiasa membina dan mengajarkan nilai-nilai Islam sesuai dengan kebutuhan Muslim yang masih awam saat itu.
Sunan Muria, melalui wirid tersebut, juga memposisikan diri sebagai dokter spiritual yang mampu memberikan beragam “resep” yang bermanfaat bagi kesehatan jiwa. Dengan mengamalkan wirid tersebut secara istikamah, para pengamalnya diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin.
Dimensi tahalli—menghias diri dengan berbagai zikir—yang ada pada wirid tersebut mengisyaratkan bahwa Sunan Muria sangat paham bagaimana membimbing para santrinya dalam menapaki suluk sufistik. Dengan menyelami dimensi tahalli, para salik akan senantiasa sibuk berzikir kepada Allah dalam hatinya, hingga gerak tubuh lainnya ikut menyenandungkan zikir sebagaimana hatinya.
Masjid Sunan Muria terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Di dalam masjid ini terdapat beberapa benda yang pernah digunakan Sunan Muria semasa hidupnya. Untuk bisa mencapai masjid ini, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 3 km.
Masjid ini sudah mengalami perubahan berkali-kali, tetapi beberapa bagian aslinya masih dipertahankan hingga saat ini. Salah satu bagian yang dipertahankan adalah tempat pengimaman. Bentuk pengimaman masjid menjorok ke dalam, yang mempunyai makna bahwa umat Islam harus mementingkan kepentingan akhirat dibandingkan urusan dunia. Susunan bangunan juga masih sama seperti kondisi asli masjid.
Benda lain yang masih dipertahankan adalah bedug dari kayu jati dengan ukiran naga dan ayam jantan. [—bersambung]





