Sunan Kudus (1): Putra Sunan Ngudung, Ahli di Banyak Bidang

Raden Jakfar Shadiq juga dikisahkan berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun. Namun, cerita tutur ini sepertinya perlu diperjelas. Sebab, bila mengingat ibu Raden Jakfar Shadiq adalah cucu Sunan Ampel—sebagaimana dicatat oleh Sejarah Hidup Wali Songo (1988)—kemungkinan besar tidak mungkin generasi Raden Jakfar Shadiq—yang merupakan cicit Sunan Ampel—masih berguru kepada Sunan Ampel. Pasalnya, menurut beberapa sumber historiografi, Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M.

Yang lebih masuk akal adalah, Jakfar Shadiq memang belajar ke Ampeldenta, tetapi belajar pada penerus Sunan Ampel. Sementara dalam cerita tutur bersifat legenda, Raden Jakfar Shadiq dikisahkan suka mengembara ke berbagai negeri yang jauh, dari tanah Hindustan sampai ke Tanah Suci Mekah dalam rangka beribadah haji.

Di sisi lain, kiprah Sunan Kudus dalam dunia dakwah dan pendidikan Islam terkonfirmasi dengan cukup baik dalam naskah Beube Karang Enim—naskah kuno yang dikoleksi oleh masyarakat Muara Enim, Sumatera Selatan. Naskah tersebut ditulis dalam aksara ulu atau serat ulu, aksara asli masyarakat Sumatera bagian Selatan yang dialihaksarakan oleh Muhammad Nur Anshari pada tahun 1973.

Bacaan Lainnya

Dalam Bebue Karang Enim terdapat informasi bahwa Jakfar Shadiq diperintahkan oleh Sultan Demak Raden Patah untuk berdakwah bersama Syekh Jalaluddin ke Palembang, tepatnya di Muara Enim. Selain Jakfar Shadiq, Syekh Jalaluddin juga ditemani oleh dua ulama lain, yaitu Syekh Ahmad Muhammad dan Syekh Yusuf Ibrahim. Mereka berdakwah berempat.

Masing-masing ulama itu dikisahkan mencari sepuluh murid. Keempatnya pun mendapatkan sepuluh murid masing-masing. Mereka membuat empat puluh pemondokan untuk untuk keempatpuluh murid itu, sebagai tempat pembelajaran agama.

Besar kemungkinan bahwa Jakfar Shadiq yang dimaksud uluan Palembang tersebut adalah Sunan Kudus. Dengan demikian, artinya, transmisi keilmuan Sunan Kudus tidak hanya didapat dari tanah Jawa. Sepuluh murid yang dia didik di Muara Enim juga menjadi bukti rekam jejak Sunan Kudus sebagai ulama pengembara. Selain itu, kebanyakan ulama besar Palembang juga diyakini merupakan keturunan Sunan Kudus, seperti Kiai Pedatuan, Kiai Zen Syukri dan sebagainya.

Makam Sunan Kudus terletak di bagian belakang kompleks Masjid Agung Kudus, Kota Kudus. Seperti makam Wali Songo yang lain, makam Sunan Kudus berada di dalam tungkub diselubungi oleh kelambu tipis warna putih yang terbuka pada bagian pintu berukir.

Di dalam kompleks pemakaman Sunan Kudus, di luar tungkub, terdapat sejumlah makam tokoh yang termasyhur pada zaman kejayaan Demak, seperti makan Raden Kusen (Pecat Tanda Terung) dan istrinya; Panembahan Palembang; Panembahan Kuleco; Panembahan Mangahos; Panembahan Condro; istri Sunan Muria; Pangeran Pedamaran I, II, III, IV, dan V; Pangeran Sujoko; Pangeran Pradabinabar; dan Pangeran Palembang.[—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait