Sunan Kudus (1): Putra Sunan Ngudung, Ahli di Banyak Bidang

Sunan Kudus juga dikenal sebagai ulama toleran, dengan tidak menyembelih sapi untuk menghormati Kiai Telingsing, salah seorang ulama yang sebelumnya beragama Hindu—agama yang mensakralkan sapi—yang dipercaya sebagai guru Sunan Kudus.

Menurut sejarawan Denys Lombard, Kiai Telingsing adalah anak Sunan Sungging dengan seorang perempuan Tionghoa. Dia lahir di China, kemudian disuruh ayahnya datang ke daerah Kudus untuk menyebarkan agama Islam di sana—sebelum para wali pertama berdakwah dan sebelum Kesultanan Demak didirikan.

“Sementara Sunan Kudus, yang dipandang sebagai tokoh sejarah penyebaran Islam di Jawa, dan tak syak lagi merupakan tokoh Kota Kudus yang paling tersohor, ternyata memandang Kiai Telingsing sebagai ‘kakak’ dan gurunya,” tulis Lombard.

Bacaan Lainnya

Kiai Telingsing dikisahkan tinggal di sebuah daerah subur yang terhampar di antara Sungai Tanggulangin dengan Sungai Juwana, sebelah timur Kudus. Desa kediaman Kiai Telingsing itu disebut Desa Tajug. Kiai Telingsing dikenal sebagai seorang China Muslim yang giat berdakwah menyebarkan Islam. Dia tak hanya mengajarkan agama, tetapi juga mengajarkan ilmu pertukangan dan seni mengukir kepada penduduk di wilayah dakwahnya.

Makam Kiai Telingsing berada di Kampung Sunggingan, Kudus, Jawa Tengah. Sunggingan berarti “kampung tukang kayu”—dari kata “sungging” yang berarti “juru ukir” dan “tukang kayu”. Menurut cerita lokal, Kiai Telingsing menyiarkan Islam di daerah itu sekaligus mengajarkan teknik-teknik perkayuan bersama Sunan Kudus.

Ihwal pertemuan Kiai Telingsing dengan Sunan Kudus diabadikan dalam cerita tutur masyarakat Kudus. Pada suatu hari, menurut cerita tutur tersebut, Kiai Telingsing yang sudah lanjut usia bermaksud mencari penggantinya. Dalam upaya tersebut, dia dikisahkan berdiri di depan rumahnya sambil ingak-inguk—atau menengok ke kanan dan ke kiri dalam bahasa Jawa—seperti mencari seseorang. Saat itulah dikisahkan muncul Raden Jakfar Shadiq dari arah selatan.

Setelah berbincang sebentar, Kiai Telingsing dan Raden Jakfar Shadiq sepakat membangun masjid sebagai tempat berdakwah. Lalu didirikanlah masjid yang jadi dalam waktu singkat, yang disebut masyarakat sebagai “masjid tiban”—karena masjid tersebut terkesan “mendadak ada”, seperti “tiba” (Jawa) atau “jatuh” dari langis, saking cepatnya proses pembangunannya.

Karena masjid itu dibangun bersama Sunan Kudus, dan Kiai Telingsing bertemu Sunan Kudus setelah ingak-inguk—menengok ke kanan dan ke kiri—masjid itu pun dinamakan Masjid Nganguk Wali. Nama itu untuk mengingat momentum ketika Kiai Telingsing menunggu kedatangan seorang wali sembari ingak-inguk.

Pos terkait