Pemkab menggelar vaksinasi massal, sementara Kemenkes mengimbau orang tua agar mengabaikan hoaks imunisasi.
__________
Kejadian luar biasa (KLB) campak melanda Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Hingga Senin, 25 Agustus 2025, tercatat 2.035 warga terinfeksi dan 17 orang meninggal dunia. Campak diketahui menular lewat percikan air liur ketika batuk atau bersin.
Pemerintah Kabupaten Sumenep langsung menggelar vaksinasi serentak. Program ini dilaksanakan di 26 Puskesmas selama 21 hari, termasuk menjangkau warga di wilayah kepulauan. Tujuannya jelas: melindungi warga dari risiko penularan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan orang tua agar tidak mudah termakan hoaks soal imunisasi. “Tidak mudah percaya hoaks tentang imunisasi dan obat alternatif, selalu rujuk ke informasi resmi dari Kemenkes, Dinkes, atau tenaga kesehatan/medis,” tulis Kemenkes dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 Agustus 2025.
Kasus kematian belasan anak di Sumenep diketahui terjadi pada mereka yang tidak memiliki riwayat imunisasi. Karena itu, Kemenkes mendorong agar orang tua melengkapi status imunisasi anak, khususnya imunisasi MR (measles-rubella).
Imunisasi MR dianjurkan diberikan pada anak usia 9–12 bulan, dengan booster saat 18 bulan dan saat anak duduk di kelas 1 SD. Tanpa imunisasi, campak bisa memicu komplikasi berbahaya bahkan kematian.
WHO mengingatkan, anak yang tidak diimunisasi tepat waktu menghadapi tujuh risiko: lebih rentan sakit berat, meningkatkan penularan dalam keluarga, memicu wabah, menimbulkan biaya tinggi, menurunkan kualitas hidup, menurunkan harapan hidup, hingga membatasi aktivitas sekolah dan perjalanan.
Pemerintah daerah bersama Kemenkes kini memperkuat imunisasi rutin untuk menekan penyebaran wabah. ***





