Sedangkan makanan kesukaan Sukarno saat tinggal di Ndalem Pojok, Kediri, antara lain jagung bakar, ketela bakar, jadah, dan minuman kelapa cengkir gading. Fakta ini tertulis dalam buku Trilogi Spiritualitas Bung Karno Candradimuka, karya Dian Sukarno.
“Dari kesaksian anak keturunan abdi dalem dari rumah tempat masa kecilnya, Bung Karno sangat suka jagung dan ketela bakar. Untuk jajanan jadah, dan minum air kelapa cengkir gading. Salah satu abdi dalem yang sering mendapat tugas membakar jagung adalah almarhum Joyo Sar,” kisah Kushartono, pemangku Situs Rumah Persada Sukarno, Kediri.
“Sambil menunggu jagung dan ubi dibakar, Bung Karno kecil bermain-main di sungai yang ada di belakang rumah.Sukarno kecil juga biasa memandikan kerbau di sungai yang mengalirkan air jernih. Kesukaan Bung Karno akan jagung dan ubi bakar serta air kelapa cengkir gading itu diceritakan Joyo Sar kepada salah satu cucunya Mbak Sih.Dari penjelasan Mbak Sih itulah diketahui makanan klangenan Bung Karno selama tinggal di Ndalem Pojok diasuh Raden Soemohatmojo,” lanjut Kushartono.
Untuk urusan makanan, menurut Abdul Ghafar Karim, Kepala Departemen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM), Bung Karno termasuk seniman dan memperhatikan estetika. Bung Karno akan meminta disediakan nasi dingin dan sayur lodeh yang panas, bukan sebaliknya.
“Jadi, saat disiramkan ke nasi, rasanya pas. Sebaliknya, kalau nasinya hangat, lodehnya dingin, akan menurunkan suhu yang justru diserap sayurnya. Prinsipnya, nasinya dihangatkan oleh sayur Ini tak terbanyangkan banyak orang,” kata Ghafar dalam program “Talkshow & Musik” BKNP PDIP dengan tema besar “Bung Karno Series”, dikutip dariAntara, 21 Juni 2021.
Selain itu, Bung Karno tidak suka kalau sayurnya diberi garam. Ia memilih menggarami makanannya sendiri. Menurut Ghafar, Bung Karno ingin menjadikan makanan sebagai cara untuk mengekspresikan keindahan.
Bung Karno, kata Ghafar, sangat gemar makan menggunakan tangan, termasuk saat menjamu pejabat asing. Hal ini pernah dilakukannya kala menerima duta besar Amerika Serikat. “Beliau sangat ingin membanggakan apa yang Indonesia punya, salah satunya cara makan menggunakan tangan,” kata Ghafar.
Selera dan gaya yang sangat Nusantara.—Selesai—
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





