Sukarno dan Kuliner (3): Pecinta Menu Indonesia ‘Next Level’, Agak ‘Alergi’ Makanan Barat

Sukarno juga menyukai beberapa makanan khas desa yang sederhana, seperti nasi jagung. Ia juga suka rawon, mi goreng, dan ayam goreng mentega.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan para petani yang menyokong Indonesia sebagai negara agararis, Bung Karno juga sangat gemar makan nasi jagung. Menurutnya, nasi jagung melambangkan dunia tani karena energi yang dihasilkan oleh jagung lebih besar dibandingkan dengan beras.

Bacaan Lainnya

Selain itu, jagung juga memiliki kandungan gula lebih rendah dibandingkan nasi dan roti sehingga lebih sehat. Rutin makan nasi jagung juga menjadi rahasia tubuh fit Bung Karno.

Di sisi lain, Sukarno “alergi” terhadap masakan Barat. Saat ia melihat makanan Barat terhidang, si penyuguh biasanya dia maki. Pasalnya, bagi Sukarno, menghidangkan makanan luar negeri sama dengan mengerdilkan gairah rasa yang menggugah dari makanan lokal.

Sikap antimakanan Barat itu sesuai dengan tindak-tanduk Bung Karno sehari-hari. Ia kerap minta untuk dimasakan makanan sederhana. Sayurannya pun disesuaikan dengan tanaman yang ada di halaman rumah.

Berkali-kali ia menekankan tak menyantap makanan mahal. Penuturan itu diamini oleh Istrinya, Fatmawati. Ibu Negara pertama RI itu tak pernah dibuat pusing oleh selera makan suaminya. Wanita yang akrab disapa Bu Fat tersebut kadang memasak sendiri makanan untuk Bung Karno. Ia hafal makanan-makanan yang kerap mengisi meja makan Presiden.

“Sebelum staf rumah tangga kepresidenan terbentuk, aku memasak sendiri untuk keluarga. Bung Karno selalu meminta supaya aku sendiri yang memasak makanan yang menjadi kesukaannya, seperti lodeh rebung, rendang, balado ikan, pecel, tempe goreng, sambel lele, gado-gado, ikan teri goreng, ikan kuning, pepes daun singkong, dan lain-lain.”

“Enam bulan sesudah aku tinggal di Gedung Kepresidenan (Yogyakarta) ini, barulah terbentuk staf rumah tangga, dengan perlengkapannya. Dapur umum untuk pegawai dan dapur khusus untuk keperluan resepsi-resepsi. Ruangan dalam dipergunakan untuk resepsi dan kantor kabinet. Di belakang dari ruang resepsi itu terdapat ruang dinner(jamuan besar),” ungkap Bu Fat dalam buku Catatan kecil bersama Bung Karno (2016).—Bersambung

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait