Peristiwa dua kali pertumbuhan gigi itu dianggap melambangkan siklus hidup manusia, yang dipercaya “lahir dua kali”, yaitu lahir sebagai manusia yang belum dewasa dengan gigi susunya, kemudian lahir kembali menjadi manusia dewasa yang sudah mendapatkan bertanggung jawab—yang disimbolkan oleh gigi asli.
Buah kelapa gading muda atau cengkir gadhing juga mempunyai makna permohonan berkah kebaikan dan keselamatan. Sedangkan daun kepala gading yang masih muda, berwarna kuning—yang juga disebut janur—melambangkan kejernihan pikiran.
Kelapa gading sangat berguna untuk kelengkapan tuwuhan pada upacara perkawinan dalam adat Jawa. Juga berguna untuk upacara mitoni atau tujuh bulanan. Cengkir gading juga dipergunakan untuk sesaji perkawinan, biasanya pada bagian kulitnya digambari gambar wayang Dewi Ratih dan Kamajaya, atau Janaka dan Sembadra. Filosofi yang dibawa simbol itu adalah agar pengantin dapat hidup rukun, sehidup semati bagaikan Dewi Ratih dan Kamajaya. Atau dalam istilah Jawa, rukun seperti mimi lan mintuna—rukun bagaikan ikan mimi dan mintuna yang tak terpisahkan.
Selain itu, melalui penyematan simbol tersebut, terbawa harapan agar kelak anak yang lahir dari pasangan pengantin tersebut berwajah cantik bagaikan Dewi Ratih atau tampan seperti Kamajaya.

Banyak sekali manfaat kesehatan dan filosofi yang dikandung oleh cengkir gading—buah yang airnya sangat digemari Sukarno. Mungkin juga, dengan meminum air cengkir, selain untuk menghilangkan dahaga dan mengambil manfaat kesehatan darinya, Sukarno sekaligus ingin mencerap nilai-nilai filosofis yang dibawa oleh buah itu, lalu mengaplikasikannya dalam kehidupannya sebagai pribadi maupun kepala negara.
(Wijdan/Bersambung)





