Jalur pendakian sebenarnya telah ditutup sejak 17 April 2026 menyusul peningkatan aktivitas vulkanik. Jenazah Enjel ditemukan pada 9 Mei 2026, sedangkan Shahin dan Timothy ditemukan sehari kemudian dalam posisi berpelukan sekitar 13 meter dari bibir kawah.
Operasi SAR resmi dihentikan pada 10 Mei setelah seluruh korban ditemukan. Tujuh pendaki asal Singapura yang selamat telah kembali ke negaranya melalui Bandara Changi pada 10 Mei 2026. Sementara itu, Polres Halmahera Utara kini menyelidiki dugaan kelalaian pemandu yang membawa rombongan masuk ke zona berbahaya.
Singapura Sampaikan Belasungkawa
Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban melalui unggahan Facebook pada 11 Mei 2026.
“Kami juga turut berduka cita atas mereka yang selamat, dan saya berharap mereka segera pulih sepenuhnya,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia dan tim SAR yang terlibat dalam proses pencarian di medan berat.
Menurut Balakrishnan, lebih dari 150 personel SAR bekerja dalam kondisi ekstrem, mulai dari hujan lebat, medan curam, debu vulkanik tebal, hingga ancaman letusan susulan.
“Meskipun medannya curam dan tidak stabil, hujan lebat, abu vulkanik tebal, dan risiko yang ditimbulkan oleh letusan yang terus berlanjut, mereka tetap bekerja dengan dedikasi dan profesionalisme,” ujarnya.
Pendakian Sempat Dilarang
Sebelumnya, pihak berwenang Indonesia telah mengeluarkan imbauan pembatasan aktivitas di kawasan gunung tersebut.
Pada 17 April 2026, badan vulkanologi Indonesia meminta masyarakat untuk tidak melakukan pendakian sementara waktu akibat meningkatnya aktivitas gunung api.
Namun, pemandu bernama Reza Selang mengaku tidak mendapat informasi bahwa jalur menuju puncak telah ditutup.
Ia menyebut tidak ada pemberitahuan dari pemandu lokal maupun warga sekitar kaki gunung mengenai larangan tersebut.