Sejumlah Kiai Tarekat NU Mengaku Resah dengan Kondisi Jatman

JAKARTA—Sejumlah kiai tarekat yang ternaung dalam Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah atau Jatman menilai telah terjadi beberapa masalah dalam organisasi tersebut. Salah satunya ada indikasi pembelokan sejarah tentang Islam di Indonesia, terutama yang terkait dengan pendirian Jatman.

Para kiai ini pun meminta bantuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk membereskan masalah tersebut.

Sebagai informasi, Jatman adalah badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama (NU) yang beranggotakan berbagai tarekat yang dinilai NU mu’tabarah atau bersanad ilmu kepada Nabi Muhammad Saw.

Secara harfiah, Jatman berarti kumpulan para pengamal tarekat muktabarah NU. Jatman, menurut keterangan beberapa sumber, didirikan di Tegalrejo, Magelang, pada 20 Rajab 1377 H atau 10 Oktober 1957.

Bacaan Lainnya

Jatman juga tercatat sebagai banom NU yang memiliki struktur kepengurusan terlengkap, dari tingkat pusat hingga tingkat paling bawah. Anggotanya tercatat antara 40-50 juta.

Pada Senin (2/9/2024) lalu, sejumlah pengurus wilayah dan mursyid tarekat yang ternaung dalam Jatman, dipimpin anggota Majelis Ifta’ wal Irsyad Idarah Aliyah Jatman KH. Achmad Chalwani Nawawi, mengunjungi kantor PBNU. Mereka ditemui oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni.

Sejumlah kiai tarekat dan pimpinan Jatman bertemu dengan jajaran pengurus PBNU, Senin (2/9/2024). (Dok. Antara)

“Ada dua hal yang kami sampaikan. Yang pertama menanyakan status kepengurusan Idarah yang semestinya berakhir September 2023, tetapi hingga sekarang belum juga bermuktamar,” ujar Chalwani dalam siaran pers, Senin (2/9/2024), dikutip kembali pada Rabu (4/9/2024).

Kedua, kata Chalwani, para kiai tarekat juga melaporkan realitas terkini dari Jatman kepada PBNU, serta meminta agar PBNU mencarikan jalan keluar, salah satunya terkait perubahan sejarah Jatman sejak dipimpin Habib Lutfi bin Yahya.

“Kami juga kepingin meluruskan sejarah Jatman. Awal berdirinya dulu belum bernama Jatman. Itu tahun 1957. Yang mendirikan empat kiai, yakni KH. Muslih Mranggen (Demak), KH. Nawawi (Purworejo), KH. Mandhur (Temanggung), dan KH. Masruhan Iksan (Mranggen),” kata Chalwani, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo sekaligus mursyid dari Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah itu.

Pos terkait