Sang Pemadam yang Disambar Api

Silmy Karim pernah dikenal sebagai spesialis penyelamat BUMN bermasalah. Kini, reputasi yang dibangun dari industri hingga imigrasi menghadapi ujian terbesar di ruang pengadilan.
Sebelum imigrasi meruntuhkan namanya, Silmy Karim adalah pria yang dipanggil negara setiap kali sebuah perusahaan besar hampir mati.

Ada satu pertanyaan yang selalu mengikuti Silmy Karim ke mana pun ia pergi: mengapa selalu dia yang dipanggil ketika sebuah institusi besar nyaris tenggelam? Bukan pertanyaan yang mudah dijawab.

Tapi rekam jejaknya — yang membentang dari markas industri pertahanan di Bandung hingga gedung-gedung BUMN yang berdarah-darah secara finansial — menawarkan jawaban yang jauh lebih kompleks dari sekadar “orang kepercayaan pemerintah.”

Bacaan Lainnya

Silmy lahir di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, pada 19 November 1974. Ia bukan anak pejabat. Ia bukan kader partai. Yang ia miliki adalah gelar ekonomi dari Universitas Trisakti — lalu ia mengisinya dengan pendidikan pertahanan di Georgetown University, Harvard Kennedy School, hingga Naval Postgraduate School di California. Perpaduan yang tidak lazim: seorang ekonom yang memahami doktrin ketahanan negara.

Dalam ekosistem BUMN Indonesia, ada perusahaan yang sehat dan ada yang sekarat. Yang sekarat kerap dibiarkan merana — sampai ada yang mau masuk ke dalamnya. Silmy adalah orang yang mau.

Julukan “spesialis BUMN sakit” yang melekat padanya bukan hinaan. Itu pengakuan.

Babak I · 2014–2016: Pindad dan Martabat yang Diangkat

Penugasan pertama yang benar-benar menyita perhatian publik datang pada Desember 2014, ketika ia ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Pindad — produsen senjata dan kendaraan tempur yang secara strategis penting, namun kerap luput dari sorotan.

Di bawah Silmy, Pindad tidak sekadar memperbaiki laporan keuangan. Ia mengangkat citra industri pertahanan dalam negeri ke panggung internasional. Pada 2015, kontingen Indonesia memenangkan lomba tembak militer bergengsi AASAM di Australia — meraih 30 medali emas dari 50 yang diperebutkan. Lebih dari separuh. Prestasi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Ia meninggalkan Pindad setelah satu tahun tujuh bulan. Bukan karena gagal. Negara punya pekerjaan lain yang lebih berat untuknya.

Babak II · 2016–2018: Barata Indonesia dan Formula yang Akan Diulang

PT Barata Indonesia bergerak di sektor pangan, energi, dan air — tiga sektor yang sesungguhnya vital, namun perusahaannya tengah terpuruk saat Silmy datang pada Agustus 2016.

Ia menerapkan formula yang akan ia ulang di tempat-tempat berikutnya: pemetaan masalah, pemangkasan beban yang tidak produktif, dan fokus keras pada pendapatan. Kontrak dan pendapatan Barata melonjak tajam dalam dua tahun.

Ketika ia pergi ke Krakatau Steel pada September 2018, pejabat Kementerian BUMN sendiri yang berkata: “Kami harapkan pengalaman Pak Silmy menyelesaikan beberapa proyek selama di Barata bisa ditularkan di Krakatau Steel.”

Kata-kata itu bukan basa-basi. Itu mandat.

Babak III · 2018–2023: Krakatau Steel dan Api yang Hampir Memakan Segalanya

Ini pekerjaan terbesar dan terberat dalam hidup profesionalnya.

PT Krakatau Steel — produsen baja terbesar Indonesia — menanggung kerugian delapan tahun berturut-turut saat Silmy tiba. Utang menggunung hingga USD2 miliar. Moral karyawan hancur. Kompetisi global menekan dari segala arah.

“Krakatau Steel punya utang USD2 miliar dan hampir bangkrut,” katanya kepada media pada 2022. “Kami dipanggil untuk memadamkan api itu.”

Yang ia lakukan bukan sulap. Ia melobi perbankan dalam dan luar negeri selama satu tahun penuh demi mendapatkan restrukturisasi kredit. Ia memangkas pos-pos yang menggerogoti neraca. Ia mengubah orientasi kerja karyawan — bukan sekadar hadir dan bekerja, tapi berkontribusi nyata pada laba.

Hasilnya terasa pada kuartal I 2020: Krakatau Steel mencatat keuntungan USD74,1 juta, setara Rp1 triliun.

Program restrukturisasi menghemat perusahaan sebesar USD685 juta. Utang yang terlunasi selama kepemimpinannya mencapai USD487,7 juta.

Ia juga mendongkrak kepemilikan saham Krakatau Steel di joint venture PT Krakatau Posco dari 30 persen menjadi 50 persen — memperkuat posisi tawar Indonesia dalam industri baja regional.

Babak IV · 2023–2024: Imigrasi, Rekor, dan Bayangan yang Mengikuti

Saat dilantik sebagai Dirjen Imigrasi pada 4 Januari 2023, Silmy datang membawa mandat yang jelas dari Presiden Jokowi: modernisasi.

Imigrasi Indonesia kala itu masih beroperasi dengan cara-cara lama yang membuat investor asing mengeluh. Jokowi menerima keluhan itu langsung, dan Silmy dipercaya menjadi jawaban.

Ia bergerak cepat. Program Golden Visa diluncurkan untuk menarik investor global dan talenta internasional. Visa elektronik bisa diajukan daring, dibayar dengan kartu kredit, diproses tanpa tatap muka.

Kerja sama dengan VFS Global — perusahaan layanan imigrasi terbesar di dunia — diresmikan pada Oktober 2024, memperluas jangkauan layanan ke jaringan internasional.

Hasilnya tampak gemilang: PNBP Imigrasi 2023 menembus Rp7,6 triliun — 320 persen di atas target Rp2,3 triliun. Angka tertinggi dalam sejarah keimigrasian Indonesia. Prestasi yang kemudian menjadi salah satu alasan Presiden Prabowo mempromosikannya menjadi Wakil Menteri.

“Capaian PNBP ini adalah bukti bahwa pelayanan yang baik dan penerimaan negara bisa berjalan beriringan,” ujarnya pada peringatan Hari Bhakti Imigrasi ke-74, Januari 2024.

Namun di balik angka-angka itu, KPK belakangan menemukan gambar yang berbeda. Laporan PPATK mengungkap aliran dana Rp366,7 miliar di 96 rekening bank yang terhubung ke 35 pegawai Kementerian Imipas pada periode 2019–2025.

Apakah lonjakan PNBP dan aliran dana itu saling berkaitan, atau dua hal yang berdiri sendiri — itu yang kini sedang dijawab penyidik.

Legasi yang Belum Selesai Ditulis

Dalam dunia yang lebih sederhana, Silmy Karim akan dikenang sebagai salah satu eksekutif BUMN terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Rekam jejaknya di Pindad, Barata, dan Krakatau Steel adalah data yang nyata dan terukur — bukan narasi yang dibangun di atas pencitraan semata.

Ia bukan politisi. Ia tidak punya partai. Yang ia punya adalah reputasi sebagai orang yang bisa membenahi sesuatu yang rusak. Dan negara, berkali-kali, datang kepadanya dengan sesuatu yang rusak.

Kini ia menghadapi perkara hukum yang, jika terbukti, akan menempatkan namanya di sisi yang berlawanan dari semua yang pernah ia bangun. Proses hukum masih berjalan. Fakta persidangan belum terungkap seluruhnya.

Ia datang ke tempat-tempat yang terbakar dan memadamkan apinya. Kini api itu, dalam bentuk lain, menyambarnya balik. Hukum akan membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.

Cerita Silmy Karim belum selesai ditulis. Dan babak terakhirnya tidak akan ditentukan oleh capaian PNBP — melainkan oleh putusan hakim.***

* Dirangkum dari berbagai sumber

Pos terkait