Pelemahan rupiah mendekati Rp17.600 per dolar AS memicu kekhawatiran harga pangan dan ongkos harian ikut terkerek.
Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Tekanan ini dikhawatirkan segera merembet ke harga pangan, ongkos logistik, hingga belanja harian masyarakat.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Kontan, rupiah spot berada di level Rp17.593 per dolar AS pada Jumat siang. Liputan6 juga mencatat rupiah sempat menyentuh Rp17.612 per dolar AS pada pagi hari.
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi memperingatkan, pelemahan rupiah akan terasa pada komoditas berbasis impor. Gandum dan kedelai menjadi dua bahan baku yang paling rentan.
Harga Makanan Bisa Merangkak
“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mie instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma.
Menurut Rahma, produsen sebenarnya sudah menanggung kenaikan biaya sejak akhir April. Jika tekanan kurs berlanjut, selisih biaya itu berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga makanan sehari-hari.
Dampaknya paling terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kenaikan harga tahu, tempe, dan mie instan dapat mengganggu akses terhadap sumber pangan murah, sementara kelas menengah harus menambah biaya makan harian.
Ongkos Angkut Ikut Tertekan
Tekanan lain datang dari energi dan transportasi. Harga BBM nonsubsidi sudah naik pada Mei 2026. Bloomberg Technoz mencatat Dexlite menjadi Rp26.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter di wilayah Jabodetabek.
“Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor,” kata Rahma.
Ia juga mengingatkan potensi kenaikan biaya transportasi umum dan ojek daring karena sebagian suku cadang kendaraan masih bergantung pada impor. Pelemahan kurs membuat biaya perawatan kendaraan ikut lebih mahal.
Rahma memperkirakan kombinasi pelemahan rupiah, harga energi, dan ketergantungan impor dapat mendorong inflasi ke kisaran 4,5 persen hingga 4,8 persen tahun ini. Kelompok menengah disebut paling rentan karena tidak selalu menerima bantuan sosial.





