Menteri Investasi Rosan Roeslani menyebut teknologi baru memungkinkan proyek waste to energy mengolah seluruh jenis sampah tanpa harus dipilah lebih dulu.
Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani memastikan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy tidak lagi membutuhkan proses pemilahan sampah seperti sebelumnya.
Menurutnya, teknologi terbaru yang kini dimiliki pemerintah pusat dapat langsung mengolah sampah campuran menjadi energi. “Sampah itu sekarang tidak perlu dipisah-pisahkan, kalau dulu kan harus dipisah-pisahkan. Dengan teknologi yang ada, semua sampah yang ada itu bisa diolah,” ujar Rosan usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (6/11/).
Meski begitu, Rosan menilai tidak semua jenis sampah dapat diproses bersamaan. Ia menyebut material seperti besi atau benda keras sejenis kemungkinan besar masih memerlukan perlakuan berbeda. “Kan pasti kalau yang besi mungkin beda juga ya,” ujarnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Bos BPI Danantara itu menambahkan, proyek waste to energy tidak hanya mampu mengolah sampah baru, tetapi juga bisa memproses timbunan sampah lama yang sudah menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).
Rosan mencontohkan proyek serupa yang sudah berjalan di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, melalui fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant. Bedanya, hasil olahan dari waste to energy dan RDF Plant memiliki kadar output yang berbeda.
“Sekarang semua sampah itu bisa diolah dengan teknologi yang ada, baik yang baru maupun yang lama. Ya memang hanya membedakan kadar output-nya saja. Contohnya di Bantar Gebang atau tempat lainnya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong pengembangan proyek waste to energy sebagai solusi berkelanjutan untuk menekan volume sampah dan meningkatkan ketahanan energi nasional.***





