SURABAYA–Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang digelar di Tebuireng, Jombang, Sabtu (3/8/2024) malam, menetapkan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim.
Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958 di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Kabupaten Jombang. Ia adalah anak dari pasangan KH. Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum.
Gus Kikin adalah cicit pendiri NU, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebab, Abdiah Ma’shum adalah anak dari putri sulung Hasyim Asy’ari, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim.
Sementara itu, Mahfudz Anwar adalah Pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang. Mahfudz lahir pada 12 April 1912 dan meninggal pada 20 Mei 1999.
Gus Kikin merupakan sepupu KH. Anwar Manshur, Pengasuh Tertinggi Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sejak 2014.
Gus Kikin tidak hanya belajar di Pondok Pesantren Sunan Ampel. Dia juga di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak di Jombang, yang didirikan oleh kakeknya.
Dari tahun 1963-1970, Gus Kikin menerima pendidikan formal di Madrasah Ibtida’iyah Parimono. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri 1 Jombang dari tahun 1971-1973.
Kemudian, ia menimba ilmu di SMA Negeri 2 Jombang dari tahun 1974-1977. Dia lalu pergi ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta pada 1975-1979. Pada 2013, ia melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, jurusan komunikasi.
Gus Kikin menjadi pegawai Djakarta Lloyd setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, dan menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun. Pada 1988, saat usianya 30 tahun, ia menjabat sebagai Kepala Cabang Kota Cilegon dari Djakarta Lloyd.
Gus Kikin juga mendirikan lima perusahaan di Kota Surabaya pada tahun 1998, dan membuka kantor di Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada 2000. Ia juga mendirikan banyak perusahaan, termasuk Bama Buana Sakti yang bergerak dalam bidang transportasi, Bama Bhakti Samudra yang bergerak dalam bidang pelayaran, Bama Bumi Sentosa yang bergerak dalam kontraktor minyak, Bama Bali Sejahtera yang bergerak dalam teknologi informasi, dan Bama Berita Sarana yang bergerak dalam bidang media televisi.
Gus Kikin ditunjuk sebagai Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng pada 2016. Kemudian, setelah KH. Salahuddin Wahid (Gus Solah) meninggal dunia pada 2020, Gus Kikin ditunjuk sebagai pengasuh pesantren.
Pada 2016, Gus Solah mengadakan musyawarah keluarga dengan seluruh keturunan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, KH Muhammad Hasyim Asy’ari, untuk memilih Gus Kikin sebagai pemimpin baru.
Sebanyak 200 lebih orang dari keluarga Pesantren Tebuireng berkumpul untuk memberikan rekomendasi mereka tentang siapa yang akan menjadi pengasuh Tebuireng berikutnya. Tim khusus yang terdiri dari sembilan perwakilan keturunan KH Hasyim Asy’ari membahas berbagai usulan dan persyaratan calon pengasuh. Di sana kemudian diputuskan siapa yang akan menggantikan Gus Solah sebagai pengasuh pesantren.*





