Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan. Kemarahan, perasaan kehilangan hingga tidak berdaya tidak jarang menyebabkan perubahan suasana hati yang berlangsung cepat. Hal ini dapat terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar sehingga menyebabkan istri merasa terkuras tenaganya dan hal ini sama sekali tidak mudah untuk dilalui.
Perasaan yang paling intens terjadi adalah kesedihan dan perasaan kehilangan yang mengakibatkan istri menjadi menutup diri kepada orang lain (Zalafi, 2015). Menurut Brilian (2017), ketika pasangan selingkuh dan sudah terbukti, tentu memiliki beberapa dampak seperti perasaan terluka, kecewa, hilangnya kepercayaan diri, hingga perasaan sulit untuk kembali percaya pada pasangan.
Ada pula dampak lain seperti memberikan bekas trauma yang mendalam ataupun mempengaruhi pola relasi pasangannya dengan orang lain. Menurut Pesona (2017), salah satu tahap yang dialami oleh seorang wanita ketika mengetahui pasangannya berselingkuh adalah tahap menyalahkan diri sendiri.
Akibat dari tahap ini adalah kehilangan kepercayaan diri, dan merasa dirinya tidak berharga lagi yang membuat dirinya tidak memiliki keinginan untuk melakukan pengungkapam diri kepada orang lain Ketika istri pertama kali mengetahui tentang perselingkuhan suami, reaksi awal adalah shok dan tidak percaya.
Ketika istri menganggap suami mereka adalah seseorang yang setia dan tidak mungkin melakukan hubungan dengan wanita lain. Walaupun masih dalam kondisi belum bisa menerima, para istri berusaha untuk memperoleh informasi yang selengkap- lengkapnya tentang perselingkuhan tersebut. Istri berkali-kali menginterogasi suami, melakukan penyelidikan terhadap tindak tanduk suami , menghubungi perempuan yang merupakan pasangan selingkuh, mengecek tagihan sms bahkan sering mengecek keberadaan suami setiap harinya.
Dalam waktu singkat, seorang istri yang awalnya percaya penuh pada suaminya berubah menjadi seorang detektif yang penuh kecurigaan. Ketika akhirnya suami mengakui perbuatannya atau sudah terkumpul sejumlah informasi yang meyakinkan, maka barulah para istri terpaksa menghadapi kenyataan bahwa perkawinan mereka tidak sebaik yang mereka duga selama ini.
Selanjutnya mereka mengalami masa- masa yang paling sulit, yang diwarnai oleh berbagai emosi negatif. Tahap selanjutnya adalah mengatasi emosi-emosi yang sangat intens dan berubah sepanjang waktu. Istri merasa amat marah, kecewa, sedih, dikhianati, sehingga ingin segera meninggalkan suaminya. Istri bahkan berpikir untuk juga berselingkuh dengan laki-laki lain sebagai balas dendam atas perlakuan suami. Pada masa-masa awal setelah perselingkuhan terbuka, para istri mengalami kesedihan dan kemarahan yang intens.
Mereka kehilangan semangat hidup dan harus memaksakan diri untuk bisa melakukan tugas sehari-hari seperti bekerja, mengurus anak dan merawat diri sendiri. Kemarahan yang intens membuat mereka sangat mudah terlibat dalam pertengkaran, sering memarahi anak dan sangat mudah tersinggung. Konflik terbuka amat sering terjadi terutama bila suami masih menyembunyikan informasi seputar perselingkuhannya. Tidak jarang mereka terlibat dalam pertengkaran hebat yang disertai kekerasan fisik dari istri.
Namun demikian biasanya masih ada rasa cinta yang cukup besar terhadap suami dan rasa kasihan pada anak bila perkawinan harus berakhir dengan perceraian. Para istri berusaha untuk menyelamatkan perkawinan dan mengurangi stres dengan meminta bantuan pihak lain seperti orangtua, sahabat, ahli agama dan konselor perkawinan. Umumnya istri mengaku amat lelah dengan perubahan emosi yang amat drastis.
Pada kondisi yang sudah mencapai puncak kebosanan seorang suami karena perselingkuhan, kadang di akhiri dengan permohonan maaf dari suami, tetapi sekalipun permohonan maaf itu sudah diterima oleh istri, dan disepakati oleh kedua belah pihak, rasa sakit yang dirasakan oleh korban perselingkuhan dalam hal ini istri masih terus membekas dalam hatinya.
