Sepuluh tahun menjadi orang dalam Istana Jokowi, Pratikno akhirnya keluar dari kabinet. Kursinya kini diduduki orang paling dipercaya Prabowo.
Presiden Prabowo Subianto merombak Kabinet Merah Putih untuk ketujuh kalinya pada Kamis, 1 Oktober 2026. Di Istana Negara, Jakarta, ia melantik 18 pejabat, mulai dari menteri koordinator hingga pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Perombakan itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 104/P dan 105/P Tahun 2026. Para pejabat mengucapkan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Prabowo.
Rotasi paling mencolok bermula dari kursi Kepala Polri. Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyerahkan jabatan itu kepada Suyudi Ario Seto, mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), lalu bergeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
“Ya katanya hari ini saya akan dilantik menjadi KSP,” kata Listyo kepada wartawan sesaat sebelum pelantikan, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Listyo menggantikan Dudung Abdurachman, yang baru memimpin Kantor Staf Presiden sejak April 2026. Dudung tidak keluar dari lingkar Istana. Ia naik menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), menggantikan Djamari Chaniago.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kini merangkap Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Kursi Menteri Perindustrian berpindah dari Agus Gumiwang Kartasasmita ke Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji. Di jajaran wakil menteri, Luky Alfirman dilantik menjadi Wakil Menteri Keuangan, sedangkan Irwan Meilano mengisi kursi Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan.
Diplomat Karier di Pejambon
Pergeseran lain terjadi di Kementerian Luar Negeri. Kursi Menteri Luar Negeri yang ditinggalkan Sugiono kini diisi Arrmanatha Christiawan Nasir, diplomat karier yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.
Arrmanatha bukan wajah baru di Pejambon. Ia pernah menjadi juru bicara Kementerian Luar Negeri, Duta Besar Indonesia untuk Prancis, dan Wakil Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati, membaca penunjukan itu sebagai tanda kembalinya meritokrasi di Kementerian Luar Negeri. Menurut dia, perombakan kali ini mencari keseimbangan antara penunjukan teknokratis dan politis.
Pratikno Keluar, Sugiono Masuk
Sugiono sendiri bergeser ke kursi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia menggantikan Pratikno, yang sepuluh tahun menjabat Menteri Sekretaris Negara pada era Presiden Joko Widodo.
Pengamat politik Usep menilai pergantian itu memutus jaringan teknokratis yang selama ini menghubungkan Istana dengan pemerintahan lama. Ia menyebut Pratikno sebagai memori institusional satu dekade pemerintahan Jokowi sekaligus simbol terakhir rezim sebelumnya.
Soal penempatan Sugiono, Usep melihat ada risiko karena minimnya rekam jejak kader lingkaran inti Partai Gerindra itu di bidang kebijakan sosial. Namun, menurut dia, langkah itu bukan soal kompetensi.
Prabowo, kata Usep, sedang menaruh orang paling dipercayanya di pos yang mengoordinasikan program sosial berbasis massa. Pos itulah yang dinilainya paling sensitif secara elektoral menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Pakar ilmu pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, membaca arah serupa. Ia menilai pergantian Pratikno dan Listyo Sigit, dua figur yang dikenal dekat dengan Jokowi, menandai bergesernya konfigurasi kekuasaan dari era Jokowi ke pemerintahan Prabowo.
Pratikno sendiri memilih irit bicara. Seusai menghadiri pelantikan penggantinya, ia menyampaikan terima kasih kepada Prabowo atas kepercayaan selama sekitar dua tahun memimpin Kemenko PMK.
Ketika ditanya soal kabar dirinya bakal masuk Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Pratikno tidak membenarkan maupun membantah. Ia hanya meminta publik menunggu.
“Ya nanti kan ada berita berikutnya,” kata Pratikno di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.***





