Perusahaan Besar Ini Sponsori Israel Serang Palestina dan Perangi Tembakau di Indonesia

Propaganda yang Meracuni Pemerintah 

Dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) Jurnalis bertema “Membongkar Akar Pertembakauan: Meluruskan Tudingan Antitembakau, Faktor Ekonomi, dan Warisan Tradisi Bangsa Indonesia” yang digelar Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Tengah di salah satu kafe di Semarang, pada Ahad, 12 November 2017, Dr. Tony Priliono dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang membeberkan, propaganda antirokok yang berlangsung di Indonesia ini sengaja digeber untuk menakut-nakuti perokok. 

Kampanye dijalankan dengan dengan menyematkan gambar seram di setiap bungkus rokok, serta penjelasan secara massif tentang “bahaya merokok”. Termasuk dampak asap hasil pembakaran tembakau terhadap perokok pasif. Padahal, menurut Tony, hingga sekarang tidak ada riset yang benar-benar bisa menunjukkan bahwa merokok bisa merusak tubuh manusia. 

Bacaan Lainnya

“Yang dijadikan riset adalah mereka yang sudah sakit. Bukan perokok yang sehat. Jadi, seolah-olah merokok itu bisa bikin sakit,” terang insiator Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI) ini.

Yang dijadikan kambing hitam, lanjutnya, adalah kandungan nikotin pada tembakau. Zat ini disebut-sebut adiktif, yang bisa menyebabkan kecanduan. “Isu itu baru muncul setelah tahun 2000. Sebelumnya tidak ada. Dan sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan kalau nikotin itu zat adiktif,” bebernya.

Menurut Tony, nikotin sama sakali tidak mengandung zat adiktif. Baginya, orang kesulitan berhenti merokok itu karena sudah menjadi kebiasaan, bukan karena kecanduan nikotin. 

Tony pun mencontohkan kebiasaan merokok itu seperti kebiasaan orang Indonesia mengonsumsi nasi. “Jika dalam sehari tidak mengonsumsi nasi, ada yang merasa lemas, pusing, dan keluhan lain. Apa berarti nasi itu juga mengandung zat adiktif?” jelasnya.

Sementara itu, sebagai upaya penetrasi untuk menghancurkan industri tembakau dengan isu kesehatan itu, lanjut Tony, dunia farmasi mulai menjual produk yang diklaim bisa membuat seorang perokok meninggalkan tembakau. Produk itu seperti koyo, inhealer, hingga permen karet yang mengandung nikotin.

“Seolah-olah farmasi memberikan solusi. Padahal, kandungannya itu, ya nikotin juga, yang katanya mengandung zat adiktif,” terang Tony.

Pos terkait