
Setahun sebelumnya, saat Tasyakuran Hari Pahlawan Nasional di Balai Pemuda Surabaya (9/11/2022), Kiai Tar mengingatkan bahwa bahaya terbesar bagi Indonesia bukan bencana alam, melainkan hilangnya jati diri bangsa. “Kalau jati diri terkikis, Indonesia tinggal nama dan bentuk, tapi jiwanya tiada,” ujarnya. Jati diri itu, lanjutnya, bersifat gaib, namun tampak dalam sejarah seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Hari Pahlawan.
Dalam diskusi “Kupas Tuntas Peristiwa 10 November” yang digelar LKBN Antara Jatim, Ketua LVRI Surabaya Hartoyik menuturkan perlawanan Arek-Arek Suroboyo terhadap Sekutu terjadi dua kali: 27–29 Oktober dan 10 November 1945, dipicu oleh tiga provokasi besar—perobekan bendera Belanda di Hotel Orange, Resolusi Jihad 22 Oktober, dan terbunuhnya Brigjen Mallaby. Peristiwa itu kini dikenang bukan sekadar perang, tapi cermin jati diri bangsa Indonesia.
Selengkapnya baca di sini.





