Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Program Wajib Belajar 12 Tahun Diubah jadi 13 Tahun pada 2026

Potret kegiatan belajar mengajar Pendidikan Anak Usia Dini. - Kemdikdasmen
Mulai tahun depan, anak Indonesia wajib bersekolah sejak TK hingga SMA. Program wajib belajar 13 tahun ini jadi tonggak baru pendidikan

Pemerintah resmi menambah masa Program Wajib Belajar dari 12 tahun menjadi 13 tahun, mencakup jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Rabu (22/10), sebagai langkah memperkuat pendidikan anak usia dini dan pembangunan karakter.

“Jumlahnya berapa, volumenya berapa, nanti bisa disampaikan,” ujar Mu’ti singkat.

Fokus pada Fondasi Anak Usia Dini

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat menyambut baik kebijakan ini. Ia menegaskan, wajib belajar 13 tahun harus menjadi komitmen bersama untuk mencetak generasi unggul.

Bacaan Lainnya

“Rencana ini harus mendapat perhatian dan pemahaman semua pihak,” ujarnya.

Menurut Lestari, masa anak usia dini adalah fase paling krusial dalam pembentukan karakter, kemampuan numerasi, dan literasi. “Inilah tahap yang menentukan kualitas generasi bangsa ke depan,” tambahnya.

Kebijakan baru ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026, dengan orientasi utama memperkuat layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2023 terdapat 30,2 juta anak usia 0–6 tahun, atau sekitar 10,91 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini menunjukkan besarnya potensi investasi SDM di tahap awal pendidikan.

Benchmark Negara Maju dan Agenda Global

Program wajib belajar 13 tahun ini juga menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 serta Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) 2045.

Menurut Kementerian, kebijakan ini mengacu pada benchmark Jepang, Korea Selatan, China, dan sejumlah negara anggota OECD, yang lebih dulu menerapkan satu tahun prasekolah wajib sejak dekade 1980-an.

Langkah ini juga sejalan dengan target global Sustainable Development Goals (SDGs), yang menekankan pentingnya akses pendidikan prasekolah universal.

“Belajar di TK Itu Bermain”

Mendikdasmen Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan usia dini bukan tentang akademik semata, tetapi membangun dasar kemampuan belajar jangka panjang.
“PAUD itu fondasi pendidikan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa mereka yang punya pengalaman di PAUD memiliki learning sustainability yang lebih baik,” katanya di Felfest, Kampus UI, Depok, Ahad, 27 Juli 2025 lalu.

Mu’ti menambahkan, pendekatan pembelajaran di TK akan berbasis permainan. “Hakikat belajar di TK adalah bermain. Kita sekarang punya gerakan science yang murah, mudah, dan menyenangkan,” ujarnya.

Dengan langkah ini, pemerintah berharap sistem pendidikan Indonesia tak lagi sekadar menyiapkan siswa untuk ujian, tapi membentuk generasi pembelajar sejati sejak dini.***

Pos terkait