Perayaan Satu Abad dan Kisah tentang “Naturalisasi”

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan sepanjang perhelatan Satu Abad NU, banyak tampang politisi dan pejabat publik menghiasi Sidoarjo, mulai dari pejabat menteri dan setingkat, tokoh politik, hingga anggota DPR. Mereka berjajar berbaris dengan shaf yang rapi, tetapi sebagai baliho—bukan hadir secara langsung.  Balihonya besar-besar lagi.

Sebenarnya pemandangan ini menyebabkan polusi visual. Idealnya foto-foto besar ini diminimalisir—jika perlu diberlakukan “skip ads”. Semestinya yang diperbanyak itu poster atau baliho yang informatif terkait acara, misalnya peta lokasi, nomor telepon penting, petunjuk menuju lokasi, info penginapan gratis, atau info MCK portable. Penulis sendiri mengalami bagaimana bingungnya menuju lokasi yang ingin dituju. Padahal, penulis sudah tidak malu bertanya kepada Banser dan petugas kepolisian yang berjaga, namun tetap sesat di jalan. Akhirnya penulis baru menemukan apa yang dicari setelah “berijtihad” sendiri.

Soal undangan kepada para politisi ini, Ketua panitia Organizing Committee (OC) acara Satu Abad Nahdlatul Ulama Zannuba Ariffah Chafsoh—yang akrab disapa Yenny Wahid—mengatakan semua partai politik diundang menghadiri puncak peringatan itu. Beberapa tokoh nasional memang tampak hadir, seperti Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Agus Harymurti Yudhoyono, Megawati Sukarnoputri, Hidayat Nurwahid, Jusuf Kalla, Arsul Sani, dan tokoh-tokoh lain. Yang tidak tampak justru Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Bacaan Lainnya

Alasan PBNU mengundang semua parpol adalah karena usia NU lebih tua dari Republik Indonesia. Sehingga, menurut Yenny, NU punya kepentingan besar bahwa semua kebijakan politik yang dihasilkan mengacu pada cita-cita organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu. Juga mengacu pada nilai-nilai yang diusung bangsa, yaitu negara yang merdeka, sejahtera, dan aman untuk beraktivitas dan beribadah.

Barangkali NU berpedoman pada hadits soal menghormati tamu. Semua boleh hadir, boleh datang, tanpa pandang bulu. Silakan meraup berkah dari NU. Berkah apa saja, termasuk berkah untuk disenangi dan disukai warga NU. Berkah elektabilitas, istilah kata.

Namun, di antara upaya “ngalap berkah” yang mungkin juga dilakukan oleh para pemburu elektabilitas itu, muncul sindiran seorang kiai yang ikut hadir di Sidoarjo. “Semoga Nahdlatul Ulama tidak berubah menjadi Nahdlatul Umara’.” Ini adalah satire bagi mereka yang pada saat resepsi dinilai lebih memprioritaskan para umara, pejabat, dan agak kurang memperhatikan para kiai, terutama kiai sepuh.

Mungkin pengurus NU telah mengupayakan yang terbaik demi kelancaran dan kesuksesa acara. Tetapi, setidaknya, ketika ada uzur, kekurangan, atau kekurangpasan, pengurus dan panitia berkenan sowan meminta maaf kepada para masyayikh. Dan Ketua Umum Gus Yahya sendiri sudah mengucapkan permohonan maafnya secara terbuka.

“Semua yang kita kerjakan, semua yang terjadi, kita kembalikan pada penglihatan Allah, Rasulnya, dan orang-orang beriman,” kata Gus Yahya, dalam keterangan tertulis yang diterbitkan oleh LTN-PBNU, Jumat, 10 Februari 2023. Berikut ini permohonan maaf lengkap Gus Yahya kepada Rais Aam dan para Kiai

Saya mohon ampun kepada Yang Mulia Rais Am dan para kyai atas kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan keseluruhan rangkaian kegiatan peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pengurus, panitia dan Kader Nahdlatul Ulama yang telah setahun ini bekerja banting-tulang tunggang-langgang untuk mewujudkan semua yang kita rencanakan bersama. Kepada mereka, tiada setitik pun keluhan.

جزاكم الله وبارك فيكم

Semua yang kita kerjakan, semua yang terjadi, kita kembalikan pada penglihatan Allah, Rasulnya, dan orang-orang beriman.

Kekecewaan, kemarahan dan caci-caci maki, kita ambil pelajaran sebisa-bisanya.

Kebencian orang terhadap kita, kita istighfari. Karena tiada orang dibenci tanpa sebab. Kalau kita dibenci, pasti gara-gara kelakuan kita sendiri.

وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير

Memang ada banyak orang mendengki tanpa sebab. Terhadap yang ini, kita hanya bisa mohon perlindungan kepada Allah.

Semoga setiap ingsut kaki, setiap gerak tangan, setiap tetes keringat, setiap getar suara, setiap kelebat gagasan, setiap buncah bahagia dan harapan, dikembalikan kepada kita sebagai barokah khidmah.

Acara Perayaan Satu Abad ini memang sukses. Pentas seni budaya modern yang ditampilkan sarat muatan nilai-nilai Islam ahlussunnah waljamaah. Lautan manusia memenuhi helatannya. Sejak tanggal 7 Februari dini hari, dalam radius kurang lebih 5 km, jutaan warga Nahdliyin berkerumun di bawah payung bulan dan bermandi terik matahari. Sidoarjo diputihkan warga NU. Mereka berkumpul dengan satu tujuan, ber-tabarruk, ngalap berkah raksasa dari ihtifal akbar hajatan tersebut.

Semoga semua warga NU yang hadir dalam acara tersebut benar-benar mendapat berkah dan rahmat Allah Swt.. Semuanya dapat. Bukan hanya beberapa “pendatang baru” atau “warga naturalisasi” yang mendadak NU saja yang dapat barokah elektabilitas. NU sangat luhur. Sangat besar. Sepertinya tak pantas jika NU hanya dijadikan tumpangan kepentingan sereceh itu.

Satu SPBU di sekitar Gelora Delta Sidoarjo “diduduki” peserta perayaan Satu Abad NU, Senin, 6 Februari 2023, sekitar pukul 20.00 WIB. Animo warga Nahdliyin untuk acara Satu Abad NU ini sangat tinggi. Mereka berharap mendapatkan berkah.(SF/Wijdan)

Selamat datang di abad kedua Nahdlatul Ulama!***

 

Pos terkait