Penambahan jumlah penerbangan diduga menjadi penyebab kecelakaan pesawat yang menewaskan 67 orang. Tabrakan pesawat American Airlines dengan helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat AS di atas Sungai Potomac pada Rabu, 29 Januari 2025, malam waktu setempat, itu menjadi kecelakaan paling mematikan di Amerika Serikat sejak serangan 11 September 2001.
Kecelakaan ini mengingatkan publik pada tragedi serupa yang terjadi lebih dari empat dekade lalu. Pada 13 Januari 1982, pesawat Air Florida jatuh di Sungai Potomac akibat cuaca buruk, menewaskan 78 orang.
Peristiwa nahas ini kembali menyoroti tingginya tingkat kepadatan penerbangan di Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA). Lokasinya yang dekat dengan sungai, terbatasnya landasan, serta tingginya frekuensi penerbangan menjadi perhatian utama.
Seperti dilaporkan News Nation Now, Bandara Reagan beroperasi dengan sistem “aturan slot,” di mana jumlah penerbangan harian dibatasi. Selain DCA, hanya empat bandara lain yang menerapkan sistem serupa, yaitu JFK dan LaGuardia di New York, Newark di New Jersey, serta O’Hare di Chicago.
Meskipun ada keterbatasan, Kongres AS tetap menambah 10 penerbangan harian ke dalam jadwal DCA pada tahun lalu. Penerbangan tambahan ini merupakan bagian dari Undang-Undang Pengesahan Kembali Administrasi Penerbangan Federal yang disahkan pada 2023.
Keputusan Kongres AS ini mendapat kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Otoritas Bandara Nasional. Senator Tim Kaine menilai keputusan tersebut sangat berisiko bagi keselamatan penerbangan. “Dengan keputusan yang sangat sembrono ini, Kongres mempertaruhkan keselamatan setiap orang yang menggunakan bandara ini,” ujarnya pada Februari 2023.
Masalah Kelelahan Pengendali Lalu Lintas Udara
Laporan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) yang diperoleh Associated Press mengungkapkan bahwa seorang pengendali lalu lintas udara sedang menangani dua posisi sekaligus saat kecelakaan terjadi. Kondisi ini dinilai tidak normal, terutama untuk waktu dan volume lalu lintas udara yang tinggi.
