Penanganan di masing-masing pasar dilakukan dengan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan. Di Pasar Simo Gunung, dilakukan perluasan area karena masih ada pedagang yang belum tertampung. Sementara di Pasar Kembang, revitalisasi menjadi kelanjutan pekerjaan sebelumnya dengan tambahan perbaikan lantai dan pembangunan atap.
Adapun Pasar Babakan Baru dan Wonokromo difokuskan pada penataan sistem pemotongan unggas yang lebih higienis dan sesuai regulasi. Di Babakan Baru, disiapkan fasilitas pemotongan skala kecil sekitar 5.000 ekor per hari secara semi manual yang dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Sedangkan di Wonokromo, konsepnya lebih modern dengan dukungan fasilitas seperti conveyor belt, namun tetap melibatkan pedagang eksisting,” imbuhnya.
Berdasarkan data Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, total terdapat 10 pasar yang menjadi target revitalisasi Pemkot Surabaya sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, lima pasar ditargetkan rampung pada pertengahan Mei 2026, yakni Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Pasar Babakan Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Simo Gunung.
Sementara lima pasar lainnya akan dibenahi secara bertahap, meliputi Pasar Pakis, Dukuh Kupang, Pecindilan, Gresik PPI, dan Krembangan. Seluruh penanganan difokuskan pada penguatan infrastruktur dasar melalui kolaborasi lintas perangkat daerah (PD), termasuk pembenahan drainase kawasan.
Iman menambahkan, revitalisasi ini merupakan bagian dari dukungan Pemkot Surabaya terhadap pengelolaan aset PD Pasar. “Perbaikan ini dilakukan atas permohonan Bagian Perekonomian dan nantinya menjadi bagian dari penguatan aset serta peningkatan layanan pasar,” pungkasnya. ***





