Pelajaran Keadilan Dasar dari Ketangguhan Rakyat Iran

Rakyat Iran mengibarkan bendera nasional Iran dan memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei saat mereka berkumpul untuk mendukung Pemimpin Tertinggi Iran yang baru di Lapangan Enghelab di pusat Teheran pada 9 Maret 2026. - STRINGER / AFP
Ketangguhan Iran bukan murni soal militer, melainkan bukti nyata berjalannya kontrak sosial yang memprioritaskan hak dasar rakyatnya.

Oleh: Faried Wijdan | Penulis Samudrafakta.com

​Dunia kerap memandang Iran melalui lensa geopolitik yang tegang: sebuah negara yang dihimpit embargo, diisolasi, dan dijatuhi sanksi ekonomi berlapis selama puluhan tahun. Secara logika ekonomi modern, negara dengan tekanan sebesar itu semestinya sudah runtuh dari dalam. Namun, faktanya, mereka tetap tegak berdiri.

​Rahasia ketangguhan ini ternyata bukan sekadar terletak pada kekuatan alutsista, melainkan pada pondasi yang jauh lebih fundamental: bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

Kesaksian dari mereka yang pernah menetap di sana, seperti Dian Wirengjurit, Duta Besar RI untuk Iran (2011-2016), mengungkap realitas yang menampar nalar kapitalisme modern. Di tengah keterbatasan, negara hadir untuk memanusiakan warganya.

Bacaan Lainnya
​Memprioritaskan Manusia di Atas Angka Makro

​Jurnalis senior Timur Tengah, Mustafa Abd Rahman, dalam bukunya Iran Pasca Revolusi, merekam dengan apik transformasi sosial pasca-1979. Ketika Ayatullah Khomeini mengambil alih kepemimpinan, pidato-pidatonya tidak berpusat pada obsesi menarik investasi asing atau mengejar angka pertumbuhan makro yang sering kali semu.

​Langkah pertama yang diambil adalah memastikan perut rakyat terisi dan beban hidup mereka diringankan. Negara mengambil alih tanggung jawab atas akses layanan dasar.

Pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan energi seperti air serta listrik dibuat sangat terjangkau—bahkan digratiskan pada masa awal transisi. Harga bahan bakar minyak (BBM) dipatok sangat murah, bukan sekadar sebagai alat politik, melainkan pengakuan bahwa energi adalah urat nadi kehidupan rakyat, bukan komoditas murni untuk diperdagangkan bebas.

​Martabat Sebagai Pengikat Kesetiaan

​Tentu, kita harus berpijak pada realitas bahwa Iran hari ini bergulat dengan masalah inflasi dan tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang tak berkesudahan. Mereka jauh dari kata sempurna. Namun, ada satu ikatan kuat yang mencegah rakyatnya hancur dalam keputusasaan: kepastian bahwa negara tidak lepas tangan.

Pos terkait