Pangeran Katandur, Cucu Sunan Kudus yang Merintis Tanaman Tembakau dan Karapan Sapi di Madura

Ketika panen sukses, Pangeran Katandur mengajak masyarakat untuk menggelar tasyakuran. Dalam acara itulah Pangeran Katandur memperkenalkan sekaligus mengajarkan dua fungsi sapi untuk masyarakat Sumenep, yaitu sebagai pembantu membajak sawah dan karapan atau balapan sapi. 

Pangeran Katandur mengajarkan memasang nanggala pada sapi, lalu diberi sepasang bambu yang ditarik untuk membajak sawah. Dengan ‘perlengkapan’ seperti itu juga, sapi juga bisa difungsikan sebagai sarana olahraga berupa karapan—yang kemudian menjadi olahraga kesenian khas Madura. 

Proyek dakwah sekaligus penanaman tembakau yang digalakkan Pangeran Katandur rupanya mendatangkan berkah bagi masyarakat Madura, terutama di Sumenep. Tembakau pun melimpah di Pulau Garam dan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Menurut Samsul Ma’arif dalam The History of Madura (2015), ketika bangsa Belanda datang di Madura sekitar abad ke-16, tanaman tembakau telah banyak dibudidayakan rakyat di sana. Thomas Santoso, dalam Tata Niaga Tembakau di Madura (2001), mengatakan bahwa Madura dan tembakau adaláh dua hal yang tak terpisahkan. 

Tembakau Madura tersebar mulai dari dataran tinggi di sebelah utara Pulau Madura—mulai Pakong, Kabupaten Pamekasan—sampai Batu Putih, Kabupaten Sumenep. Awalnya hasil panen tembakau hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup para petani dengan diperjualbelikan di pasar secara tradisional. Hanya untuk kegiatan ekonomi biasa. Namun, sejak masa kepemimpinan Raffles, industri tembakau Madura dikelola secara lebih serius, hingga akhirnya sukses menjadi industri pertanian nomor dua setelah padi. 

Masyarakat Madura, khususnya Sumenep sampai sekarang memberikan penghormatan terhadap Pangeran dengan datang dan mendo’akan di makamnya, datang silih berganti di setiap harinya. Dan juga mengharapkan berkah mengalir terus untuk masyarakat Madura, termasuk mendapatkan berkah bagi tanaman tembakaunya. Makam waliyullah yang dikenal yang bernama lengkap As-sayyid al-Habib as-Syekh Ahmad Baidhawi bin Shaleh al-Badawi al-Husaini itu berada di Desa Bangkal, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.❍


FOTO: Makam Pangeran Katandur di Sumenep, Madura. (Dok. Istimewa)

 

Pos terkait