Pandji Pragiwaksono Minta Maaf kepada Masyarakat Toraja: “Joke Saya Memang Ignorant”

Komedian Pandji Pragiwaksono. - Tangkapan Layar Video Istimewa
Pandji Pragiwaksono akhirnya angkat suara dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Toraja setelah lelucon lamanya tentang Rambu Solo’ kembali viral dan menuai kecaman luas.

Setelah menuai kecaman dari berbagai pihak, komedian Pandji Pragiwaksono akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Toraja. Melalui unggahan di akun instagram pribadinya, ia mengakui bahwa leluconnya tentang upacara adat Rambu Solo’ memang keliru dan bersifat ignorant.

Polemik ini berawal dari potongan video lawas tur Mesakke Bangsaku tahun 2013 yang kembali viral pada akhir Oktober 2025. Dalam potongan itu, Pandji melontarkan candaan bahwa masyarakat Toraja “jatuh miskin karena pesta pemakaman adat” dan menggambarkan jenazah yang “dibiarkan di ruang tamu depan televisi.”

Rekaman itu memicu kemarahan publik. Banyak yang menilai Pandji telah merendahkan kesakralan Rambu Solo’, ritual pemakaman suci dalam kepercayaan Aluk Todolo.

Bacaan Lainnya
Gelombang Reaksi dari Toraja

Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia (PTI), Ayub Manuel Pongrekun, dalam pernyataan Senin (3/11/2025), menegaskan candaan Pandji “tidak bisa ditoleransi karena menyinggung kehormatan adat dan kepercayaan leluhur Toraja.”

Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) juga mengirim surat terbuka dan melaporkan Pandji ke Bareskrim Polri, menudingnya melanggar UU ITE dan melakukan penghinaan terhadap golongan tertentu (SARA). Mereka menegaskan bahwa budaya Toraja telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, dan tidak seharusnya dijadikan bahan olok-olok.

Kepolisian kemudian membenarkan adanya laporan masyarakat. “Laporan sudah kami terima dan sedang dipelajari untuk melihat unsur pidana yang mungkin terpenuhi,” kata Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro, Karopenmas Divhumas Polri, Selasa (4/11/2025).

Dukungan moral kepada masyarakat Toraja juga datang dari berbagai tokoh budaya. Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), menyebut pernyataan Pandji “adalah bentuk ketidaktahuan tentang makna spiritual di balik Rambu Solo’, yang sejatinya ekspresi kasih dan penghormatan tertinggi kepada orang tua yang wafat.”

Klarifikasi Pandji: “Saya Membaca Semua Protes Itu”

Setelah diam beberapa hari, Pandji akhirnya mengunggah video klarifikasi berdurasi tujuh menit di kanal YouTube-nya, Rabu (5/11/2025), berjudul “Permintaan Maaf untuk Masyarakat Toraja.”

“Selamat pagi, Indonesia. Terutama untuk masyarakat Toraja yang saya hormati. Dalam beberapa hari terakhir, saya menerima banyak protes dan kemarahan terkait sebuah joke dalam pertunjukan tahun 2013. Saya membaca dan menerima semuanya,” ujarnya dengan nada serius.

Ia mengaku telah berbicara langsung dengan Rukka Sombolinggi untuk memahami nilai-nilai budaya Toraja. “Dari obrolan itu saya menyadari bahwa joke yang saya buat memang ignorant. Untuk itu, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Toraja yang tersinggung dan merasa dilukai.”

Siap Jalani Hukum Negara dan Hukum Adat

Pandji menyebut kini ada dua jalur hukum yang sedang berjalan. Pertama, proses hukum negara terkait laporan ke polisi. Kedua, proses hukum adat, sebagaimana dijelaskan oleh Rukka, hanya bisa dilakukan di Toraja.

“Saya menghormati kedua proses ini. Saya siap mengikuti keduanya,” ucapnya. “Saya belajar banyak dari kejadian ini, dan sadar bahwa humor tak boleh menginjak nilai sakral bagi kelompok lain.”

Pandji menegaskan dirinya tak bermaksud melecehkan budaya mana pun. Ia mengakui candaan itu bagian dari kritik sosial yang salah arah, lahir dari kurangnya empati dan pengetahuan.

Reaksi Lanjutan: “Permintaan Maaf Itu Baru Awal”

Permintaan maaf Pandji disambut hati-hati. Rukka Sombolinggi menilai, “Itu langkah awal yang baik, tapi proses pembelajaran harus berlanjut agar publik memahami bahwa adat bukan bahan hiburan.”

Sementara Ayub Manuel Pongrekun menegaskan, “Kami menunggu komitmen Pandji untuk datang ke Toraja dan menjalani prosesi hukum adat. Permintaan maaf di dunia maya saja belum cukup.”

Refleksi: Tawa yang Harus Punya Empati

Kasus ini menjadi pengingat tentang batas antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, humor yang tak berpijak pada pemahaman kultural bisa berubah menjadi luka kolektif.

Permintaan maaf Pandji memang menutup satu babak. Tapi sekaligus membuka ruang baru untuk edukasi lintas budaya — bahwa tawa seharusnya menjadi jembatan, bukan jurang, di antara perbedaan.***


Fakta Kunci:

  • Kapan: Polemik muncul akhir Oktober 2025; klarifikasi diunggah 5 November 2025.
  • Siapa: Pandji Pragiwaksono; PTI; PMTI; Rukka Sombolinggi (AMAN); Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro.
  • Apa: Candaan tur Mesakke Bangsaku (2013) dianggap melecehkan adat Rambu Solo’.
  • Di mana: Jakarta (klarifikasi); Toraja (lokasi adat dan pelaporan).
  • Mengapa: Candaan menyinggung spiritualitas masyarakat Toraja.
  • Bagaimana: Pandji meminta maaf terbuka dan siap jalani hukum adat maupun negara.

 

Pos terkait