”Semoga dengan Peringatan Sumpah Pemuda yang diwujudkan dalam pembangunan rumah bagi warga dhuafa ini menjadi perwujudan kecintaan kita terhadap Tanah Air Indonesia,” tandas Eko.
Program Rumah Syukur ini, menurut Eko, diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya. Tidak memandang suku dan agama dengan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditentukan sebagaimana mestinya. “Program ini dinamakan pembangunan rumah syukur, bukan bedah rumah sebagaimana umumnya. Kami membangun mulai dari pondasi sampai atap bukan tambal sulam ala kadarnya,” ungkap dia.
Eko menjelaskan, program tersebut merupakan cara organinasinya mensyukuri peristiwa sumpah pemuda dan kelahiran lagu kebangsaan Indonesia Raya pada tanggal 28 Oktober 1928.
“Kita tahu bahwa sumpah pemuda adalah peristiwa ajaib luar biasa, berselang 17 tahun dari peristiwa sumpah pemuda, bangsa Indonesia mendapatkan anugerah kemerdekaan dari Allah Yang Maha Kuasa, tepatnya di tanggal 17 Agustus 1945,” pungkasnya.

Dalam semangat Sumpah Pemuda, tambah Eko, dengan pembangunan 4 unit rumah tersebut, OPSHID ingin membangun jiwa Bangsa Indonesia.
“Spirit dari pembangunan rumah ini tentu kita ingin membangun jiwa. Kita bisa lihat kehidupan masyarakat seringkali dipandang sebelah mata. Kami ingin saudara-saudara kita merasakan kemerdekaan dan perlakuan yang sama”, tandasnya.
Selain waktu yang cepat, pembangunannya pun menggunakan material terbaik dan konstruksi profesional. Berbeda dengan program bedah rumah pada umumnya yang hanya merenovasi sebagian rumah, program Rumah Syukur Layak Huni membongkar total rumah yang tidak layak huni, dan dibangun kembali, 100 persen gratis. Adapun anggaran material, tenaga kerja, konsumsi dan operasional, semua ditanggung oleh OPSHID.






