Opshid Salatiga dan Semarang Bangun Rumah Layak Huni untuk Dhuafa di Momentum Sumpah Pemuda

Foto: FB/ Opshid
Semarang – Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (Opshid FKMYE) baru saja meluncurkan inisiatif yang penuh inspirasi: pembangunan 80 unit Rumah Syukur Layak Huni. Program ini bertujuan untuk memberikan harapan baru bagi masyarakat kurang mampu di seluruh Indonesia, sekaligus menjadi simbol persatuan dan kepedulian di tanah air.

Tahun ini, Opshid FKYME Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang membangun rumah layak huni untuk masyarakat dhuafa di empat titik wilayah Kabupaten Semarang.

Rumah yang dibangun warga Shiddiqiyyah tersebut adalah milik Ibu Suwantini (istri veteran ’45 Alm. Mbah ponco), Desa Jlumpang, Kecamatan Bancak, Ibu Sugiyem (dengan kondisi kesehatan lumpuh), Desa Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Ibu Suparni, Desa Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, dan Bapak Samtoni, Desa Banjarsari, Kecamatan Suruh.

Bacaan Lainnya

Rumah Sykur Titik 1 Ibu Suwantini Desa Jlumpang Kec Bancak, progress pengerjaan hari keenam. (Foto: Dok Ist/ Eko)”Semua dilakukan atas kerjasama dan gotong-royong OPSHID FKYME Kota Salatiga dan Kab. Semarang, warga Shiddiqiyah, para simpatisan. Proyek Rumah Syukur ini non-politik dan tidak memandang ras, suku, maupun agama. Tanpa proposal ke instansi pemerintah, bantuan partai politik dan swasta”, ujar Eko, salah satu aktivis OPSHID FKMYE Kab Semarang kepada redaksi Samudrafakta, Kamis (19/9).

Rumah Syukur Titik 2 Ibu Sugiyem Desa Susukan Kec Ungaran Timur, progres pengerjaan hari keenam. (Foto: Dok Ist/Eko)

Eko mengatakan, proyek bedah rumah sebagai ejawantah ajaran keimanan dan kemanusiaan ini dilaksanakan dalam waktu relatif singkat ini, didanai oleh kemandirian serta gotong royong pemuda Shiddiqiyyah dan warga Shiddiqiyyah Salatiga dan Kabupaten Semarang.

“Pengerjaan sudah berlangsung seminggu. Untuk peletakan Batu Syukur titik 1 dan 2 dilaksanakan pada 14 September. Sedangkan peletakan Batu Syukur  titik 3 dan 4 dilaksanakan pada 16 September. Target 40 hari selesai dan diresmikan pada 28 Oktober 2024. Total dana untuk pembangunan keempat rumah layak huni tersebut sekitar Rp 500 juta. Semuanya hasil swadaya dan keikhlasan warga Shiddiqiyyah”, ungkap Eko.

”Semoga dengan Peringatan Sumpah Pemuda yang diwujudkan dalam pembangunan rumah bagi warga dhuafa ini menjadi perwujudan kecintaan kita terhadap Tanah Air Indonesia,” tandas Eko.

Program Rumah Syukur ini, menurut Eko,  diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya. Tidak memandang suku dan agama dengan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditentukan sebagaimana mestinya. “Program ini dinamakan pembangunan rumah syukur, bukan bedah rumah sebagaimana umumnya. Kami membangun mulai dari pondasi sampai atap bukan tambal sulam ala kadarnya,” ungkap dia.

Eko menjelaskan, program tersebut merupakan cara organinasinya mensyukuri peristiwa sumpah pemuda dan kelahiran lagu kebangsaan Indonesia Raya pada tanggal 28 Oktober 1928.
“Kita tahu bahwa sumpah pemuda adalah peristiwa ajaib luar biasa, berselang 17 tahun dari peristiwa sumpah pemuda, bangsa Indonesia mendapatkan anugerah kemerdekaan dari Allah Yang Maha Kuasa, tepatnya di tanggal 17 Agustus 1945,” pungkasnya.

Rumah Syukur Titik 3 Ibu Suparmi Desa Susukan Kec Ungaran Timur, progres pengerjaan hari kedua. (Foto: Dok Ist/Eko)

Dalam semangat Sumpah Pemuda, tambah Eko, dengan pembangunan 4 unit rumah tersebut, OPSHID ingin membangun jiwa Bangsa Indonesia.

“Spirit dari pembangunan rumah ini tentu kita ingin membangun jiwa. Kita bisa lihat kehidupan masyarakat seringkali dipandang sebelah mata. Kami ingin saudara-saudara kita merasakan kemerdekaan dan perlakuan yang sama”, tandasnya.

Selain waktu yang cepat, pembangunannya pun menggunakan material terbaik dan konstruksi profesional. Berbeda dengan program bedah rumah pada umumnya yang hanya merenovasi sebagian rumah, program Rumah Syukur Layak Huni membongkar total rumah yang tidak layak huni, dan dibangun kembali, 100 persen gratis. Adapun anggaran material, tenaga kerja, konsumsi dan operasional, semua ditanggung oleh OPSHID.

Rumah Syukur Titik 4 Pak Samtoni Desa Banjarsari Kec Suruh. (Foto: Dok Ist/Eko)

Sekadar informasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) merupakan salah satu organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah. Dalam rangka mensyukuri peristiwa Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, mereka membangun rumah gratis layak huni untuk masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan ini diselenggarakan rutin tiap tahun.

Mereka menjalankan pitutur luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi,  bahwa Sumpah Pemuda adalah nikmat besar yang harus disyukuri terutama oleh Pemuda Shiddiqiyyah. Selain peristiwa Sumpah Pemuda-nya yang ditasyakkuri, juga men-tasyakkuri lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kedua peristiwa penting itu terjadi pada Kongres Pemuda ke II, 28 Oktober 1928.

Program pembangunan Rumah Syukur Layak Huni tidak hanya sekadar merenovasi rumah yang sudah ada, melainkan membongkar rumah lama yang sudah tidak layak huni, dan membangun rumah tersebut dari awal. OPSHID berpegang pada pendirian profesionalisme dalam pengabdian maka untuk pengabdian di bidang Rumah Syukur ini totalitas tersebut ditunjukkan dalam bentuk penggunaan material bangunan berkualitas premium dan konstruksi yang profesional.

Pembangunannya dipersembahkan 100 persen gratis untuk penerimanya. Ini bukan jenis program yang tidak total dalam membangun rumah, sehingga penerima harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk melengkapi kebutuhan rumah. Penerima Rumah Syukur akan menerima paket lengkap rumah beserta perabotannya, fasilitas air dan listrik, juga menerima fasilitas penunjang kesehariannya.

Pada tahun 2024, sebanyak 80 unit rumah syukur dibangun dan tersebar di beberapa wilayah yang meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Jakarta, Banten, Sumatera, Kalimantan, dan Bali.

Pemuda Shiddiqiyyah, jiwa-jiwa yang diliputi semangat Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, didorong rasa cinta kepada tanah air, geraknya dipenuhi syukur. Begitulah adanya, sekali merdeka tetap merdeka.

 

Pos terkait