‘No Kings’ Meledak di AS, Perang Iran Jadi Beban Politik Baru Trump

Ribuan warga Amerika Serikat membanjiri berbagai negara bagian dalam aksi protes “No Kings”, memprotes berbagai kebijakan Presiden Donald Trump, Sabtu (28/3/2026). — MSNBC
Minnesota Jadi Titik Sorotan

Pusat perhatian tertuju ke St. Paul, Minnesota. Di sana, aksi utama digelar di halaman Capitol negara bagian dan menjadi panggung simbolik perlawanan terhadap Trump.

AP melaporkan, acara puncak itu menghadirkan Bruce Springsteen sebagai penampil utama. Hadir pula Bernie Sanders, Joan Baez, dan Jane Fonda, yang mempertebal bobot politik sekaligus kultural dari gerakan “No Kings”.

Reuters menyebut Minnesota menjadi lokasi yang sangat emosional karena aksi di sana juga diwarnai penghormatan kepada dua korban penembakan oleh aparat federal. Hal ini membuat demonstrasi tidak hanya bernuansa politik, tetapi juga sarat emosi publik.

Bacaan Lainnya

Perkiraan massa di Minnesota juga sangat besar. AP menulis penyelenggara memperkirakan sekitar 100.000 orang akan hadir dalam acara utama tersebut. Namun, angka itu merupakan estimasi penyelenggara sebelum acara, bukan penghitungan resmi final.

Infografis dibuat menggunakan Gemini AI.
Perang Iran Jadi Beban Politik Trump

Perang Iran kini bukan sekadar isu luar negeri. Konflik itu mulai berubah menjadi beban politik domestik bagi Gedung Putih, terutama karena menyentuh harga energi, pengerahan pasukan, dan kekhawatiran akan perang yang lebih panjang.

Reuters melaporkan Trump sedang menghadapi tekanan berlapis. Di satu sisi ia ingin menunjukkan ketegasan militer. Di sisi lain, perang yang berkepanjangan justru berpotensi mengingatkan publik Amerika pada trauma Irak dan Afghanistan.

Situasi ini makin sensitif setelah muncul laporan bahwa Pentagon menyiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, meski belum ada keputusan final dari Trump. Isu inilah yang ikut memperkuat narasi anti-perang dalam protes “No Kings”.

Gedung Putih Meremehkan

Respons Gedung Putih cenderung meremehkan gelombang aksi tersebut. Sejumlah laporan menyebut protes itu dipandang sebagai ekspresi kelompok anti-Trump yang tidak mewakili arus utama masyarakat.

AP melaporkan pejabat Gedung Putih dan sekutu Trump menolak menganggap demonstrasi itu sebagai ancaman politik serius. Mereka menggambarkannya sebagai aksi kiri yang penuh teatrikal, sementara Partai Republik menilai demonstran tidak mencerminkan mayoritas pemilih Amerika.

Meski begitu, luasnya jangkauan aksi menunjukkan bahwa oposisi terhadap Trump kini semakin mudah terkonsolidasi. Reuters menekankan meluasnya partisipasi di komunitas kecil dan daerah suburban sebagai sinyal politik yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Efek Politik ke Pemilu Paruh Waktu

Gelombang “No Kings” muncul pada saat yang sensitif, yakni beberapa bulan menjelang pemilu paruh waktu AS pada November 2026. Karena itu, aksi ini berpotensi menjadi indikator awal kekuatan mobilisasi anti-Trump di lapangan.

Besarnya aksi ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Trump tidak lagi bertumpu pada satu isu tunggal. Perang Iran, imigrasi, hak sipil, dan tekanan ekonomi kini bertemu dalam satu payung protes yang sama.

Bagi Partai Republik, situasi ini bisa menjadi alarm dini. Bagi oposisi, “No Kings” memberi sinyal bahwa energi perlawanan terhadap Trump tetap hidup dan bahkan meluas hingga ke wilayah yang selama ini tidak dianggap sebagai pusat demonstrasi.***

Pos terkait