Muslihat Snouck Hurgronje #2: Menggagas Sekolah Modern untuk Menjauhkan Masyarakat Nusantara dari Islam

Sekolah Eropa yang digagas Snouck Hurgronje dan diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dalam Politik Etis merupakan proyek sekularisasi masyarakat Nusantara, FOTO: Istimewa

Untuk membendung perlawanan tersebut, atas gagasan Snouck Hurgronje dan Van Deventer—seorang pengacara sekaligus penulis sejarah Hindia Belanda dari Belanda—didirikanlah sekolah untuk anak-anak Nusantara, di mana para lulusannya diberi prioritas untuk bisa langsung bekerja di instansi-instansi pemerintah Kolonial. Mereka dijadikan buruh dengan upah sangat murah untuk diperkerjakan bagi kepentingan Kolonial.

Dan di sekolah-sekolah itulah para peserta didik didoktrin dengan narasi palsu tentang sejarah Islam di Nusantara.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, kalangan pesantren—yang masih secara istikamah mengajarkan kebenaran Islam dan sejarahnya di Nusantara—tidak berorientasi pada kerja di instansi milik Belanda. Kalangan ini, menurut Agus Sunyoto, bahkan menilai gaji dari pemerintah kolonial hukumnya haram.

Namun demikian, sejarah Indonesia dengan pahit menunjukkan bahwa sedikit demi sedikit keberadaan dan pengaruh pesantren berhasil digeser oleh “sekolah modern”. Sementara sistem persekolahan yang digagas dan dikembangkan Pemerintah Kolonial Belanda telah menjauhkan esensi dan hakikat agama dari siswa-siswa di sekolah.

”Semenjak sekolah dikembangkan, muncul fenomena baru: Islam Modern. Yaitu Islam hasil didikan sekolah. Orang pesantren yang menolak sekolah diberi label Islam primitif alias tradisional yang terbelakang dan fanatik,” tegas Agus Sunyoto.◼︎bersambung

Pos terkait