Penasihat Khusus Presiden untuk Urusan Haji, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., resmi dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang sosiologi pendidikan luar sekolah di Universitas Negeri Malang (UM).
Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka UM di Graha Cakrawala, Kamis, 13 Februari 2025.
“Pengukuhan ini sebenarnya sudah dijadwalkan sejak lama. Namun, karena kesibukan saya sebagai menteri, baru hari ini bisa terlaksana,” ujar Muhadjir dalam sambutannya.
Sidang pengukuhan dipimpin oleh Rektor UM, Prof. Dr. Haryono, dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’thi, Menteri Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, Menteri Desa, Yandri Susanto, serta Wakil Menteri Dikti, Sains, dan Ristek, Prof. Dr. Fauzan. Hadir pula Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Moh. Nuh.
Muhadjir lahir di Madiun pada 29 Juli 1956 sebagai anak keenam dari sembilan bersaudara. Ia diangkat menjadi guru besar pada 2014, tetapi baru dikukuhkan tahun ini karena kesibukannya di pemerintahan. “Saya satu-satunya menteri dalam sejarah UM,” kata Muhadjir.
Sebelum menjadi penasihat presiden, Muhadjir menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2016–2019), lalu dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dalam Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin (2019–2024).
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul Pendidikan sebagai Pilar Pembangunan Manusia Menuju Indonesia Emas 2045: Dari Refleksi Empiris ke Konseptualisasi Teoretis, Muhadjir menekankan pentingnya kebijakan pendidikan yang bersifat implementatif.
“Pidato saya tidak terlalu teoritis. Saya lebih banyak membahas aspek implementasi kebijakan, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa membangun sumber daya manusia unggul adalah proses komprehensif yang melibatkan banyak pihak. “Tidak mungkin dijalankan secara sendiri-sendiri atau parsial, apalagi dengan pendekatan yang kontradiktif dan antagonistik,” katanya.





