Pemimpin Tertinggi Iran menyatakan kemenangan atas AS-Israel. Ia menuntut hukuman bagi agresor dan kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang yang berlangsung 40 hari.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengklaim kemenangan atas Amerika Serikat dan Israel dalam perang yang berlangsung sejak 28 Februari hingga 9 April 2026.
Pernyataan itu disampaikan melalui pesan tertulis yang disiarkan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Kamis (9/4/2026)—dan dikutip banyak media. Pidato ini bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang gugur pada hari pertama perang.
Ia menegaskan Iran tidak mencari perang, tetapi tidak akan membiarkan agresor lolos tanpa hukuman.
“Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos tanpa hukuman,” ujar Mojtaba dalam pernyataan, yang dikutip Reuters .
Ia juga menegaskan Iran akan menuntut ganti rugi penuh atas semua kerusakan, serta darah para martir dan yang terluka .
Selat Hormuz Akan Masuki Fase Baru
Mojtaba juga mengumumkan rencana strategis terkait Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Iran berupaya memperkuat pengaruhnya di jalur strategis tersebut pascakonflik.
“Kami pasti akan memajukan pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami akan meningkatkan tingkat pengelolaan dan pengendalian Selat Hormuz ke dimensi baru”.
Pernyataan ini muncul setelah Iran mulai memberlakukan pungutan biaya bagi kapal yang melintasi selat. Presiden AS Donald Trump merespons dengan kemarahan.
“Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz — mereka sebaiknya tidak melakukannya dan, jika mereka melakukannya, mereka harus segera berhenti sekarang!” tulis Trump di Truth Social.
Gencatan Senjata yang Rapuh dan Serangan ke Lebanon
Pernyataan kemenangan itu muncul di tengah uji coba gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan yang disetujui Pemimpin Tertinggi Iran pada 7 April 2026 itu bertujuan membuka jalan bagi perundingan lanjutan.
Namun, jeda tempur itu segera diguncang serangan baru Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 303 orang tewas dan 1.150 luka-luka, termasuk 110 anak-anak, perempuan, dan lansia.
Israel menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam skema gencatan senjata .
Perundingan Islamabad di Ambang Ketidakpastian
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai serangan Israel sebagai bukti ketidakpatuhan terhadap kesepakatan.
“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya,” tulis Araghchi di X.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon termasuk di antara 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington.
Perundingan lanjutan AS-Iran dijadwalkan di Islamabad, Sabtu (11/4/2026). Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Dengan perbedaan interpretasi cakupan gencatan senjata dan eskalasi di Lebanon, perundingan yang sangat dinanti itu masih diliputi ketidakpastian.***





