Minyak 2026 Bakal Murah, tapi Gejolak Geopolitik Masih Mengintai

Ilustrasi ini memvisualkan paradoks pasar minyak 2026: proyeksi oversupply menekan harga rata-rata tahunan, tetapi ketegangan geopolitik tetap membuat pergerakan harian rentan bergejolak. Bagi Indonesia, harga yang lebih rendah memberi ruang fiskal—namun risiko lonjakan mendadak belum sepenuhnya hilang. - AI Generate
EIA memproyeksikan Brent melemah pada 2026, tapi volatilitas harian tetap mengintai.

Harga minyak dunia diproyeksikan melemah sepanjang 2026, bukan karena situasi global “tiba-tiba aman”, melainkan karena hitung-hitungan pasar: produksi global diperkirakan melampaui permintaan sehingga persediaan (inventories) naik.

Dalam Short-Term Energy Outlook (STEO) edisi Januari 2026, U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan harga Brent rata-rata USD56 per barel pada 2026—turun sekitar 19 persen dari 2025—dan USD54 per barel pada 2027.  

Proyeksi EIA itu sejalan dengan pembacaan pasar versi Reuters, yang menghimpun survei ekonom/analis. Dalam laporan Reuters tanggal 5 Januari 2026, Brent diperkirakan rata-rata US$61,27 per barel pada 2026, dengan tesis yang sama: pasokan melimpah sementara permintaan tidak cukup cepat menyerapnya. 

Bacaan Lainnya

Namun, tren tahunan yang turun tidak otomatis membuat harga “tenang”. Pasar masih bisa bergerak tajam dari hari ke hari.

EIA: Produksi Melampaui Konsumsi, Inventori Naik

Menurut prediksi EIA, kenaikan inventori adalah kunci tekanan harga di 2026. Dalam kerangka EIA, konsumsi cairan bahan bakar global diperkirakan tetap tumbuh, tetapi produksi tumbuh lebih kuat, sehingga pasokan bersih bertambah dan menekan harga.  

Tambahan konteks datang dari International Energy Agency (IEA). Reuters, yang merujuk laporan IEA pada 21 Januari 2026, menyebut pasar berpotensi memasuki fase surplus pada awal 2026, meski permintaan masih naik.  

Untuk Indonesia, Turun Bukan Berarti Aman dari Lonjakan

Bagi Indonesia, catatan paling penting adalah: tren turun tidak menutup peluang gejolak. Bahkan saat narasi oversupply menguat, harga harian tetap sensitif terhadap berita geopolitik.

Reuters melaporkan pada 5 Februari 2026, Brent ditutup turun hampir 3 persen ke USD67,55 per barel, di tengah meredanya kekhawatiran pasokan jelang pembicaraan AS–Iran.  

Di sisi domestik, perubahan harga minyak global ikut “menular” ke beberapa pos utama.

Tekanan subsidi dan kompensasi energi menjadi salah satunya. Jika harga turun stabil, ruang fiskal bisa lebih longgar. Namun jika fluktuasi dipicu geopolitik, risiko pembengkakan biaya dapat kembali muncul.

Pos terkait