Mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil, kini ditemukan hampir di setiap sudut tubuh manusia. Mulai dari paru-paru, jaringan plasenta ibu dan janin, hingga darah dan ASI, mikroplastik sudah menyusup ke dalam sistem tubuh kita. Sayangnya, meskipun kehadirannya semakin jelas, penelitian tentang dampak polimer ini terhadap organ dan fungsi tubuh manusia masih terbatas.
Sebuah studi pada Maret 2024 menemukan orang dengan mikroplastik atau nanoplastik di arteri leher dua kali lebih mungkin mengalami serangan jantung, stroke, atau meninggal karena sebab apa pun selama tiga tahun ke depan dibandingkan orang yang tidak memilikinya.
“Semua bahan kimia tersebut digunakan dalam pembuatan plastik, jadi jika plastik masuk ke dalam tubuh kita, bahan kimia tersebut ikut terbawa bersamanya,” kata Sherri “Sam” Mason, direktur keberlanjutan di Penn State Behrend di Erie, Pennsylvania.
Polusi mikroplastik telah terdeteksi dalam darah manusia untuk pertama kalinya. Dilansir Guardian, para ilmuwan menemukan partikel kecil plastik di hampir 80 persen orang yang diuji. Penemuan tersebut menunjukkan partikel-partikel tersebut dapat melakukan perjalanan ke seluruh tubuh. Mengejutkannya, partikel itu mungkin bisa bersarang di organ-organ.
Menurut studi tinjauan sejawat yang dipublikasikan pada jurnal Environment International, polietilena tereftalat (PET) adalah jenis plastik yang paling banyak ditemukan pada aliran darah manusia. Plastik PET paling sering digunakan untuk memproduksi botol minuman, kemasan makanan, dan pakaian.
Temuan tersebut tentu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia. Sebab, polusi plastik di Indonesia sangat tinggi dengan sampah plastik berada di sungai, laut, darat, dan daerah pertanian. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan dikonsumsi hewan ternak dan ikan yang kemudian dimakan manusia.
Peneliti Ecoton Eka Chlara Budiarti menyebutkan permasalahan mikroplastik dalam tubuh manusia bukan hanya terjadi sekali. Sebelumnya pada tahun 2019, ECOTON sudah pernah melakukan penelitian terhadap sekitar 40 sampel feses (tinja) manusia dari berbagai daerah di Bali dan Jawa.
Hasilnya, tidak satu pun sampel yang diteliti bebas dari kontaminasi mikroplastik. Bentuk mikroplastik yang diteliti beragam, yakni fragmen, fiber, filamen, dan granula. Dalam 10 gram feses yang diteliti di laboratorium, terdapat sekitar 2 hingga 15 partikel mikroplastik per milimeter.
“Bahkan mikroplastik juga telah ditemukan di udara yang kita hirup dan di atmosfer. Baru-baru ini juga gak kalah mengejutkan ada di plasenta bayi,” ujar Chlara saat siaran langsung AZWI Talk #23, dikutip Minggu 5 Januari 2025.
Studi juga menunjukkan bahwa mikroplastik memiliki dampak kesehatan yang serius, yakni sebagai berikut:
1. Gangguan saluran pencernaan
Penelitian di China menemukan bahwa tikus yang terpapar mikroplastik mengalami kerusakan pada dinding usus besar dan penurunan produksi lendir pelindung. Mikroplastik juga memicu percepatan penyebaran sel kanker dalam saluran pencernaan.
2. Risiko kanker
Para ilmuwan dari Universitas California San Francisco di Amerika Serikat baru-baru ini juga menyebut bahaya partikel plastik mikroskopis di udara yang diklaim berperan dalam meningkatnya kasus kanker usus besar pada generasi muda. Mereka meneliti data dari 3.000 penelitian dan menemukan sekali terhirup, mikroplastik bisa masuk ke aliran darah lewat paru-paru dan menumpuk di organ itu seiring waktu.
3. Gangguan kesuburan
Penurunan kesuburan global juga diduga terjadi akibat paparan mikroplastik. Dalam percobaan, tikus yang terpapar partikel ini menunjukkan penurunan fungsi reproduksi.
Kehadiran mikroplastik dalam berbagai makanan, minuman, sayuran, dan buah-buahan yang kita konsumsi sehari-hari merupakan ancaman nyata bagi kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih bahan makanan yang kita konsumsi guna melindungi diri dari dampak buruk mikroplastik.***





