Menlu AS Marco Rubio mendeklarasikan operasi militer terhadap Iran “sudah berakhir,” namun pertempuran di Selat Hormuz, blokade laut, dan penolakan Tehran menyerahkan program nuklirnya menelanjangi klaim kemenangan tersebut sebagai jeda sementara, bukan akhir perang.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan operasi militer “Epic Fury” terhadap Iran telah berakhir. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026). Itu adalah penampilan perdananya di podium Brady Briefing Room.
“Operasinya sudah selesai. Epic Fury, sebagaimana diberitahukan presiden kepada Kongres, kami sudah usai dengan tahap itu,” kata Rubio.
Kata dia, AS kini beralih ke “Project Freedom,” yaitu misi pengawalan kapal niaga melintasi Selat Hormuz.
Rubio mengklaim AS telah mencapai tujuan operasi yang dimulai 28 Februari 2026 itu. Menurutnya, “perisai konvensional” Iran berupa rudal balistik untuk melindungi program nuklir telah dilumpuhkan. Postur militer AS, imbuh dia, kini sepenuhnya defensif. “Tidak ada tembakan kecuali kami ditembak terlebih dulu.”
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Senin (4/5), pasukan Iran menembaki kapal perang AS di Selat Hormuz. Militer AS membalas dengan menenggelamkan tujuh perahu cepat Iran. Hanya dua kapal niaga yang berhasil melintas di bawah perlindungan US Navy sejak Project Freedom diluncurkan.
Klaim “perang berakhir” juga ditampik Iran. Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya menyebut blokade laut AS sebagai “perpanjangan operasi militer.” Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan misi AS di Hormuz dan blokade pelabuhan Iran adalah pelanggaran gencatan senjata.
Menlu Iran Abbas Araghchi terbang ke Beijing pada Rabu (6/5) untuk pertemuan dengan Menlu China Wang Yi, kunjungan pertamanya sejak perang pecah. Sebelum berangkat, Araghchi menulis di X bahwa peristiwa di Hormuz membuktikan tidak ada solusi militer untuk krisis politik.
Rubio mendesak China menekan Tehran. “Saya berharap pihak China memberitahu Araghchi apa yang perlu disampaikan, yaitu apa yang Anda lakukan di selat itu menyebabkan Anda terisolasi secara global,” katanya. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei.





