Dan mungkin… justru karena itulah sebagian pihak merasa terusik.
Kini, setelah ratusan tahun menjaga akhlak dan ilmu bangsa, pesantren dihadapkan pada ujian baru — perang opini digital. Jika dulu resolusi jihad diserukan dari mimbar, kini gaungnya bergema dari ruang-ruang media sosial.
Saatnya pesantren mengambil kembali kendali narasi. Menjawab fitnah dengan data, membalas framing dengan kejujuran, dan mengembalikan marwah dengan ilmu.***





