Kisah Berdarah Hari Buruh 1 Mei: Sejarah, Tragedi Haymarket, dan Libur Nasional

Dari pemogokan kolonial hingga demo modern, 1 Mei adalah bukti bahwa suara buruh tak pernah padam. Selamat #HariBuruh!. Foto:ChatGPT/Hamka
Bagi sebagian orang, 1 Mei identik dengan musim semi di belahan bumi utara—bunga-bunga bermekaran, tarian mengelilingi Maypole, dan langit cerah penuh harapan. Namun, bagi jutaan buruh, 1 Mei bukan sekadar hari libur nasional, melainkan monumen hidup dari peluh, protes, dan solidaritas yang tak pernah padam. Bagaimana kisahnya bermula?

_________________

Tak banyak yang tahu, May Day atau Hari Buruh Internasional memiliki dua sisi makna yang tampaknya bertolak belakang. Di satu sisi, ia adalah perayaan alam, penuh riang dan warna. Namun di sisi lain, hari itu juga menjadi simbol perlawanan kelas pekerja terhadap sistem kerja yang menindas.

Sejarah panjang Hari Buruh bermula dari sebuah tragedi di Amerika Serikat. Dilansir majalah Time, tepat pada 1 Mei 1886, lebih dari 200.000 pekerja melakukan pemogokan massal di berbagai kota di AS. Mereka menuntut satu hal: delapan jam kerja per hari. Aksi tersebut menjadi bagian dari gelombang besar protes yang memuncak di Chicago, dalam apa yang kini dikenang sebagai Tragedi Haymarket.

Bacaan Lainnya

Awalnya, protes di Haymarket Square bersifat damai. Ribuan buruh berkumpul mendengarkan pidato-pidato para anarkis dan pemimpin serikat. Namun pada malam tanggal 4 Mei, saat kerumunan mulai menyusut karena hujan yang turun, situasi berubah drastis.

Sekelompok polisi datang untuk membubarkan massa. Tiba-tiba, sebuah bom dilempar ke arah barisan aparat. Ledakan itu melukai 67 polisi dan menewaskan tujuh orang. Polisi membalas dengan tembakan membabi buta, menewaskan dan melukai ratusan orang. Peristiwa ini mengguncang Amerika dan mengubah arah sejarah gerakan buruh dunia.

Tiga tahun kemudian, pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, untuk mengenang perjuangan buruh dan korban Haymarket. Sejak saat itu, jutaan buruh di berbagai negara memperingatinya dengan demonstrasi, pidato, dan aksi solidaritas.

Namun, tak demikian di Amerika Serikat. Pada masa Perang Dingin, Hari Buruh 1 Mei dianggap terlalu “merah” dan lekat dengan semangat komunis. Untuk menghindari konotasi itu, Presiden Dwight D. Eisenhower pada tahun 1958 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai “Loyalty Day” atau Hari Kesetiaan. Hari tersebut dijadikan momen untuk “menegaskan kembali kesetiaan kepada Amerika Serikat” dan menjauhi segala bentuk solidaritas internasionalisme buruh.

Sementara itu, di Indonesia, peringatan Hari Buruh menurut berbagai sumber, sudah dimulai sejak era kolonial. Pada 1 Mei 1918, Serikat Buruh Kung Tang Hwee menggelar peringatan Hari Buruh, dipicu oleh protes Adolf Baars—seorang tokoh kolonial yang mengkritik murahnya harga sewa tanah bagi kaum buruh yang justru dimanfaatkan untuk perluasan perkebunan.

Usai masa penjajahan, Hari Buruh kembali digaungkan pada era kemerdekaan. Pada 1 Mei 1946, Kabinet Sjahrir mengajukan agar Hari Buruh ditetapkan secara resmi. Dua tahun kemudian, UU No. 12/1948 mengatur bahwa setiap 1 Mei para buruh tidak boleh diwajibkan bekerja.

Namun, semangat itu sempat surut pada masa Orde Baru, yang mencurigai gerakan buruh sebagai bagian dari paham kiri. Baru pada 1 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Hari Buruh sebagai Hari Libur Nasional, mengembalikan maknanya sebagai hari refleksi dan perjuangan kelas pekerja.

Tanggal 1 Mei bukan sekadar libur kalender. Ia adalah momen untuk mengingat dan menghargai perjuangan pekerja di masa lalu. Dengan memahami sejarah ini, generasi muda bisa mengambil inspirasi untuk membentuk masa depan kerja yang lebih adil dan manusiawi.***

Pos terkait