“Indonesia gelap, itu gelap dari mana? Orang ini pemerintah baru,” begitu kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, merespons aksi demontrasi ribuan mahasiswa dan masyarakat sipil di sejumlah daerah bertajuk “Indonesia Gelap”.
Yahya bilang begitu di kantor PBNU, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025. Kata dia, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto baru bergulir beberapa bulan, oleh karena itu belum terdapat hal-hal yang bisa menjadi dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Belum ada yang menurut saya bisa diandalkan untuk membuat penilaian,” kata Yahya.
Menurut Yahya, masyarakat harus menunggu berbagai agenda yang telah direncanakan oleh pemerintahan baru ini terlaksana dengan baik. Dia menilai sejumlah agenda yang diwacanakan dan dijalankan pemerintah memuat harapan-harapan baik.
“Seperti saya katakan tadi, semua agenda yang ditujukan untuk kemaslahatan rakyat NU siap untuk menghormati,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, ribuan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi serentak di berbagai kota, antara lain Jakarta, Bandung, Lampung, Surabaya, Malang, Samarinda, Banjarmasin, Aceh, dan Bali.
Demonstrasi digelar pada Senin, 17 Februari 2025, dan hari ini di sejumlah daerah.
Tidak hanya itu, di media sosial juga beredar seruan untuk mengikuti unjuk rasa pada Kamis, 20 Februari dan Jumat, 21 Februari 2025. Tagar aksi Indonesia Gelap mencapai 43,8 ribu postingan di platform X.
Gerakan ini menjadi sorotan publik karena mengusung simbol Garuda dengan latar hitam, mencerminkan keprihatinan mahasiswa terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin jauh dari cita-cita kemakmuran.
Adapun tuntutan pertama yang disuarakan mahasiswa adalah pencabutan Inpres No. 1/2025 karena dinilai menetapkan pemangkasan anggaran yang tidak berpihak pada rakyat.
BEM UI melihat kebijakan ini sebagai langkah yang berpotensi merugikan berbagai sektor vital dalam kehidupan masyarakat..***





