“Kemerdekaan Baru Dinikmati Segelintir Orang” – Anhar Gonggong Mengkritisi Makna ‘Indonesia Merdeka’

Ilustrasi fakta kemerdekaan Indonesia yang kontras. - Samudrafakta
Di istana ada pakaian seharga jutaan dikenakan dalam sebuah perayaan akbar, di jalanan rakyat masih jual tempe. Apakah ini arti merdeka?

_________

Sejarawan nasional pernah mengungkapkan ‘keresahannya’ ketika memandang makna kemerdekaan Indonesia.

Misalnya, di tengah gegap gempita perayaan 17 Agustus di Istana Negara, Anhar melihat kontras. Di luar sana, rakyat kecil masih mendorong gerobak tempe dan sayur yang tak selalu laku.

Bacaan Lainnya

“Apakah itu makna kemerdekaan? Apakah seluruh bangsa Indonesia sudah menikmatinya?” ujarnya.

“Saya mau mengatakan secara jujur, bahwa kemerdekaan baru dinikmati segelintir orang,” begitu katanya, sebagaimana yang direkam dalam diskusi virtual Kemerdekaan 78, Sudahkah Kita Merdeka?, pada Jumat, 18 Agustus 2023 lalu.

“Apakah itu kemerdekaan? Apakah itu makna kemerdekaan? Apakah itu artinya seluruh bangsa Indonesia sudah menikmati kemerdekaannya?”

Bagi Anhar, kemerdekaan Indonesia baru sebatas simbol. Yang menikmati hanyalah segelintir orang: pejabat dan elite yang duduk di kursi kekuasaan.

Rakyat banyak masih berkutat dengan kemiskinan, gizi buruk, dan pelayanan kesehatan yang buruk. Semua itu disebutnya sebagai “cacat kemerdekaan”.

Ia mengingatkan, tujuan menjadi presiden atau menteri bukan menikmati fasilitas negara, melainkan memberi makna bagi rakyat. Selama rakyat miskin belum terangkat, kemerdekaan itu belum tuntas.

Anhar sudah menyuarakan ‘tanda bahaya’ itu sejak 2008 silam. Menurut dia, banyak kursi parlemen diisi orang yang tak paham visi dan misi bangsa, melainkan karena uang dan kedekatan dengan elite partai.

“Selama partai-partai tidak membuat kriteria yang jelas, Republik ini dalam ancaman keterpurukan,” ujarnya pada sebuah diskusi pada 2008 lalu.

Keterpurukan juga datang dari ketidakpahaman arti kemerdekaan. Menurut Anhar, banyak yang mengira Proklamasi 17 Agustus 1945 menandai Indonesia sudah selesai. Padahal, itu hanya pintu masuk. Pandangan keliru inilah yang melemahkan kesadaran kebhinekaan.

Sejarah untuk Masa Depan

Anhar menekankan, sejarah bukan masa lampau, melainkan masa depan. Ia mencontohkan Bung Karno dan Bung Hatta, yang bisa saja memilih bergabung dengan Belanda demi kekuasaan, tetapi memilih jalan sulit demi rakyat.

Berbeda dengan kondisi sekarang, sindirnya, “Gaji sudah Rp300 juta masih korupsi.”

Baginya, pahlawan sejati adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, lalu berjuang untuk bangsanya. “Itu yang sekarang tidak ada,” tegasnya.

Bagi Anhar Gonggong, kemerdekaan sejati tidak diukur dari pakaian adat mewah di istana, melainkan dari apakah rakyat kecil bisa makan layak, anak-anak bebas dari gizi buruk, dan pelayanan kesehatan menjangkau semua orang.

“Sejarah itu masa depan, bukan masa lampau,” katanya. Sebuah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia masih harus diperjuangkan hari ini—bukan sekadar dirayakan setiap tahun.***

Pos terkait