Kekeringan mengancam 29 daerah di Jawa Timur. Enam daerah menetapkan tanggap darurat, sementara 19 daerah telah melakukan penyaluran air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mencatat sebanyak 24 Kabupaten Kota terancam kekeringan. Namun hingga kini 24 daerah yang mengeluarkan status darurat.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menjelaskan, dari 24 tersebut, ada 6 daerah yang sudah mengeluarkan status tanggap darurat. Dan 19 daerah sudah melaksanakan dropping air bersih.
“Bulan Agustus dan September ini merupakan puncak musim kemarau. Kalau ada potensi hingga Oktober ataupun November, maka kami akan berkoordinasi lagi dengan kabupaten/kota apakah ada wilayah-wilayah yang punya potensi kekeringan,” katanya, Rabu (2/9/2026).
Gatot mengungkapkan, ada beberapa daerah yang sudah melakukan dropping air bersih. Baik menggunakan anggaran mereka sendiri ataupun dukungan dari Pemprov Jatim.
“Memang sebagian besar masih menggunakan anggaran dari kabupaten tersebut. Hingga nantinya anggaran dari kabupaten tersebut sudah habis, baru teman-teman dari BPBD kabupaten akan mengajukan permohonan dukungan kepada BPBD provinsi,” katanya.
Bilamana Kabupaten Kota mengajukan bantuan dropping air bersih, BPBD Jatim sudah siap. Antara lain, menyiapkan dropping air bersih kurang lebih 5.410 rit, menyediakan tandon sebanyak 50 unit, tandon lipat 100 unit, serta terpal untuk menampung air sebanyak 9.600 pcs.
“Ini yang nanti bisa dimanfaatkan oleh kabupaten/kota untuk menyimpan air ataupun tempat menampung air. Apabila dirasa perlu untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Kalaksa BPBD Jatim menambahkan, wilayah yang terdampak kekeringan terparah, seperti Bojonegoro, Lamongan, Bangkalan, dan Sumenep. Sejumlah wilayah ini, tidak sedikit masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. ***





