BNPB Mutakhirkan Data Korban Gempa Flores Tiga Kali

Angka korban gempa Flores terus bergerak seiring pemutakhiran BNPB. Dalam sepekan, korban meninggal berubah dari 71 menjadi 105 jiwa, sementara jumlah pengungsi naik-turun di tengah penanganan darurat.

Kepala BNPB di rapat Nagekeo 26 Agustus mencatat 105 orang meninggal dan 179.073 mengungsi. Sehari sebelumnya angkanya 103 jiwa dan 185.131 pengungsi. Seminggu sebelumnya 71 jiwa dan 59.647 pengungsi.

Presiden Prabowo Subianto meninjau posko pengungsi di Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 26 Agustus 2026. Kunjungan itu berlangsung 11 hari setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus, pukul 05.58 WITA.

Usai memimpin rapat koordinasi di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, Presiden menyapa pengungsi, meninjau dapur lapangan TNI dan Polri, lalu menyampaikan belasungkawa.

Di rapat itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto melaporkan 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang luka, 179.073 orang mengungsi, dan 81.436 rumah rusak.

Bacaan Lainnya

Tiga Pemutakhiran dari Lembaga yang Sama

Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers daring, mencatat 71 orang meninggal, 931 orang luka, dan 59.647 orang mengungsi.

Pada Selasa, 25 Agustus, Berton memutakhirkan catatan itu. “Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” katanya, dikutip ANTARA. Sejak 15 hingga 24 Agustus korbannya 100 jiwa.

Perincian 103 jiwa: Kabupaten Manggarai 41 orang, Manggarai Timur 34, Nagekeo 13, Sikka 6, Ngada 5, Ende 3, dan Manggarai Barat 1. Korban luka 1.666 orang.

Data penanganan yang dikutip Sekretariat Presiden per 25 Agustus pukul 09.00 WIB memakai angka yang sama untuk korban jiwa dan luka, plus 185.131 orang mengungsi.

Sehari kemudian, di meja rapat yang dihadiri presiden, angka berganti lagi: jiwa naik dua orang menjadi 105, luka menjadi 1.678, pengungsi turun menjadi 179.073. Penurunan pengungsi selaras dengan laporan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bahwa sejumlah pengungsi, termasuk di Kabupaten Sikka, telah kembali ke rumah.

Suharyanto menjelaskan jumlah pengungsi tidak hanya berasal dari warga yang terdampak langsung, tetapi juga masyarakat yang mengungsi karena khawatir terhadap gempa susulan. Sejak pekan lalu hingga Rabu, 143 kali gempa susulan tercatat di wilayah terdampak.

Hunian Menunggu Rekomendasi BMKG

Kepada pengungsi, Presiden meminta kesabaran. Merujuk beberapa ahli, ia menyebut butuh waktu maksimal tiga minggu lagi menuju kondisi yang relatif aman, baru kemudian hunian dan perbaikan rumah dipercepat.

“Percayalah, pemerintah tidak akan membiarkan saudara sendiri. Kita hadir dan kita akan terus membantu saudara-saudara,” ujar Prabowo.

Di rapat, pembangunan hunian tetap dan perbaikan rumah, kata Presiden, menunggu rekomendasi BMKG.

“Saya kira kita tetap mengacu saja kepada BMKG. Kalau mereka menilai sudah aman untuk mulai membangun, baru kita mulai bangun,” katanya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan evaluasi harian. “Tiap hari kami evaluasi, kalau sudah enam hari berturut-turut terus mengalami penurunan, nanti akan kita umumkan,” ujarnya. Menurut BMKG, situasi diperkirakan mulai relatif stabil dalam empat minggu sejak 15 Agustus.

Suharyanto menambahkan hunian sementara semipermanen sudah mulai dibangun di Sikka.

Presiden menyalurkan bantuan kemasyarakatan Rp200 miliar: Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT dan Rp20 miliar masing-masing untuk delapan kabupaten terdampak. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi merinci logistik Sekretariat Presiden 15–24 Agustus, antara lain 204,22 ton sembako, 27,71 ton makanan siap saji, dan 10,29 ton air mineral, plus dua unit rumah sakit lapangan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan