Kecanduan Konten Remeh di Medsos Bisa Bikin Otak Membusuk

Salah satu ciri gejala seseorang mengalami 'brain rot' atau 'pembusukan otak' adalah dilanda kelelahan mental berlebihan. (Ilustrasi/Samudra Fakta)
Kecanduan main ponsel dan media sosial (medsos) disebut bisa menyebabkan brain rot. Apa itu?

Menurut keterangan analis bahasa di Oxford University Press (OUP), brain rot—yang dalam bahasa Indonesia secara harfiah bisa diartikan “otak busuk”—mengacu pada kondisi kemunduran intelektual seseorang akibat mengonsumsi materi atau konten daring yang remeh dan tidak menantang secara berlebihan.

“Brain rot menggambarkan salah satu bahaya yang dirasakan dalam kehidupan virtual, dan bagaimana kita menggunakan waktu luang kita,” kata Presiden OUA, Casper Grathwohl, dikutip Sabtu, 7 Desember 2024.

Istilah brain rot pun menjadi signifikansi baru di era digital, terutama selama 12 bulan terakhir. Istilah ini awalnya menimbulkan daya tarik bagi komunitas Gen-Z dan Generasi Alpha yang biasa menggunakan platform medsos, terutama di TikTok.

Bacaan Lainnya

Dua generasi itulah yang disebut bertanggung jawab atas penggunaan dan pembuatan konten digital remeh, yang jadi biang penyebab brain rot.

Pada awal tahun ini, sebuah klinik kesehatan perilaku di Amerika Serikat (AS) mulai menawarkan terapi untuk brain rot. Klinik itu menggambarkan jika brain rot itu disertai berbagai gejala, seperti munculnya “kabut mental”, kelelahan mental, berkurangnya rentang perhatian, dan penurunan kemampuan kognitif.

Kebiasaan menggulir dan kecanduan medsos adalah contoh dari perilaku pembusukan otak. Kondisi itu bisa dicegah dengan membatasi waktu memakai ponsel dan melakukan detoks digital.

Istilah brain rot pertama kali ditemukan pada 1854, dalam buku Walden karya Henry David Thoreau. Buku ini menceritakan pengalaman Thoreau menjalani gaya hidup sederhana di alam.

Thoreau mengkritik kecenderungan masyarakat yang menurutnya merendahkan nilai dari ide-ide yang kompleks atau ide-ide yang dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, demi ide-ide yang sederhana. Ia juga melihat hal ini sebagai indikasi upaya mental dan intelektual secara umum.

“Sementara Inggris berusaha keras untuk menyembuhkan kebusukan kentang, tidakkah ada upaya untuk menyembuhkan kebusukan otak (brain rot) yang menyebar jauh lebih luas dan fatal?” ungkapnya dalam buku tersebut, dikutip dari Oxford University Press.***

Pos terkait