Polri melanjutkan rekrutmen anggota jalur santri dan penghafal atau hafiz Al-Quran karena dinilai dinilai memiliki moral dan etika yang baik, sehingga tahan godaan saat jadi polisi. Beberapa kalangan malah menilai sebaliknya: justru santrilah yang bisa-bisa terbawa arus kebiasaan di institusi Polri.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Luhur Manhajiy Fahmina Cirebon, Marzuki Wahid, menilai, malah kemungkinan para santri yang akan menghadapi tantangan integritas jika masuk institusi kepolisian.
“Apakah santri ketika masuk di kepolisian bisa mengubah wajah Polri? Ataukah sebaliknya, dia dipengaruhi oleh yang seringkali juga disebut para pengamat ada cara-cara yang tidak baik?” kata Marzuki kepada wartawan, Sabtu, 8 Februari 2025.
Alih-alih mengubah kepolisian, Marzuki khawatir para santri justru terbawa arus jika masuk polisi. Maka dari itu, kata dia, belum ada lulusan ponpesnya yang mengabdi kepada negara sebagai personel polisi.
Hampir senada dengan Marzuki, Co-founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai, para santri yang dididik dengan nilai moral dan disiplin oleh ponpes malah berpeluang mengalami degradasi saat bergabung dengan institusi yang lingkungannya tidak mendukung profesionalisme dan integritas.
“Justru ada kekhawatiran bahwa santri yang masuk malah akan ikut terpengaruh oleh lingkungan kerja yang ada,” kata Khairul Fahmi, Jumat, 7 Februari 2025.
Khairul berpandangan, semestinya kepolisian tidak sekadar memprioritaskan santri, tetapi juga memastikan bahwa mekanisme seleksi berjalan dengan baik, transparan, dan berintegritas. Dengan demikian, tak akan ada persoalan soal kualitas calon polisi yang direkrut.
Ia pun menilai pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang memprioritaskan calon polisi dengan latar belakang santri dapat diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap sistem pendidikan kepolisian dalam membentuk karakter yang baik.
Kata Khairul, pernyataan Kapolri soal godaan seolah-olah mengindikasikan bahwa masalah profesionalisme dan integritas di tubuh kepolisian bersumber dari masyarakat.
“Realitanya banyak anggota yang awalnya berintegritas justru mengalami kemunduran setelah masuk ke dalam lingkungan kepolisian,” katanya.
Pernyataan Kapolri juga dinilai sebagai bentuk pengalihan perhatian dari tanggung jawab institusi untuk memperbaiki internal.
Menurut Khairul, polisi seharusnya memperbaiki dan membangun mekanisme pengawasan yang lebih ketat, serta memastikan semua pimpinan di setiap tingkatan memberikan teladan yang baik.
“Jika sistem di level atas masih bermasalah, sekadar mengganti sumber rekrutmen tidak akan membawa perubahan signifikan,” katanya.
Sebagaimana diketahui, soal isu rekrutmen jalur santri ini, Kapolri menyatakan tidak ingin polisi hanya memahami tugas kepolisian saja. Dia berharap polisi mempunyai kematangan karakter untuk mampu mengayomi dan menjadi contoh masyarakat.
Ia yakin bahwa para santri bisa memenuhi keinginannya. “Karena dibekali iman yang kuat, sehingga pada saat menghadapi tantangan godaan semuanya bisa bertahan,” kata Sigit, Rabu, 5 Februari 2025. ***





